Senin, 17 Agustus 2009

Trik Berpuasa Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Sebuah penelitian di Inggris membuktikan bahwa berpuasa tidak memengaruhi kondisi janin ibu hamil. Ahli kebidanan dan kandungan Klinik Yasmin dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dr.Marly Susanti SpOG, tidak ada perbedaan antara perempuan hamil atau menyusui dan yang tidak. "Ibu hamil atau yang sedang menyusi boleh puasa," ujar dia di Jakarta, kemarin.

Menurut Marly, pada ibu hamil, glukosa,insulin, laktat dan carnitin turun, sedangkan trigliseride danhydroxybutyrate meningkat. Dengan demikian ibu hamil yang mengerjakan puasa Ramadhan, dia dan janinnya tidak akan kekurangan gizi.

"Tapi itu asalkan dia mengonsumsi makanan yang seimbang selama buka puasa,sahur, dan selama waktu di antara buka dan sahur. Puasa juga tidak mempengaruhi berat badan bayi yang akan lahir," papar dia.

Puasa pada hakekatnya hanya memindahkan makan pagi, siang dan malam menjadi buka, sahur dan waktu di antaranya. Tubuh manusia dapat mendeposit makanan dan dapat menggunakannya saat diperlukan.

Namun demikian, menurut Marly, bila ibu hamil atau menyusui merasa lemah,pusing, mual atau masalah kesehatan yang ada hubungannya dengan puasa seperti hipertensi, sebaiknya segera membatalkan puasa dan langsung makan dan minum.

"Indikator kekurangan kalori itu rasa lemas,keluar keringat dingin, keringat dari ujung jari. Untuk mengatasinya, segera minum teh manis," ungkap Marly. Demikian pula apabila hamil pada trimester pertama yang disertai mual-mual, muntah, dan muntah yang hebat (hyperemisis gravidarum), atau perdarahan, sebaiknya tidak berpuasa.

Sebuah penelitian lain juga membuktikan bahwa tidak ada perubahan kadar kolesterol darah maupun kadar gula darah pada orang yang berpuasa, meski terjadi penurunan berat badan sampai 4%.Pada pengukuran kadar kolesterol darah pada pagi, siang, dan sore hari tidak menunjukkan pola perubahan tertentu, bahkan masih termasuk dalam batas-batas normal.

Saat sahur dan berbuka, dr Marly Susanti menganjurkan pada ibu hamil dan menyusui untuk memenuhi kecukupan kadar kalori yang dibutuhkan, yang berasal dari makanan manis-manis sehingga gizinya lebih cepat diserap tubuh.

Bagi ibu hamil yang tetap menjalankan ibadah puasa, harus memperhatikan faktor bawaan yang kerap dijumpai pada setiap perempuan yang tengah mengandung. Fokus pada indeks makanan yang dikonsumsi selama melakukan puasa, juga perlu mendapat perhatin bagi para ibu hamil.

Khusus untuk perempuan yang sedang hamil asupannya harus lebih sepertiga kali dari asupan makanan orang biasa. Selama menjalankan puasa, dr Marly menyarankan para ibu hamil untuk tetap melakukan kontrol secara rutin kepada dokter kehamilan, dimana hal terpenting yang harus terus terpantau adalah berat badan dari si ibu.

Idealnya, berat badan ibu hamil harus bertambah seiring dengan pertumbuhan berat badan bayi yang dikandungnya. Rata-rata berat bayi yang lahir dari ibu hamil dengan usia kehamilan 4-7 bulan yang menjalankan puasa adalah 3,3 kg. Angka tersebut tidak berbeda dengan ibu hamil yang tidak melakukan puasa.

Hal serupa juga berlaku bagi para ibu menyusui. Demi menjaga kelancaran air susu ibu (ASI) yang nantinya akan diberikan pada bayi, disarankan para ibu dapat meningkatkan kualitas makanan yang akan dikonsumsi. Kalori yang cukup, karbohidrat, protein, lemak serta vitamin yang memadai merupakan faktor penting untuk menghasilkan kualitas ASI yang bagus.

BB tidak naik : tetap memaksakan ASIX atau tambah sufor?

Bunda Arka ask...

Moms..
Babyku usia 23 hr, BB lahir 3,4 kg, sampai hari ini masih 3,4 kg. Sp.A-nya bilang seharusnya BB-nya sudah naik, kmd tanya menyusuinya gmn? sejauh ini pipis >8x per hari, BAB emg jarang paling 3-4x per hari, frekuensi nyususering banget tiap 1 jam sekali, satu kali nyusu skitar 30 menit, setelah itu tidur, ga lama bangun lagi. kl malem lebih intensif, sampe nyaris ga tidur sama sekali. udah ke konsultan laktasi, dilihat latch on katanya udah bnr, jd ktnya lebih sering disusui aja. rasanya ga mungkin diperbanyak lg deh frekuensi nyusunya,secara kl diamati siang hr cuma ada jeda 30 menit, malem nempel terus, bgmn lagi harus dipersering?? Sp.A-nya bilang demi kesehatan anak lebih baik ditambah sufor, krn tampaknya ASIX-nya ga berhasil.

Ada saran mom, what should i do? Apakah bertahan dengan ASIX tp bayiku jd kurus, or tambah sufor demi kesehatannya?


Mia Sutanto, Konselor Laktasi
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) answer...

Menurut ilmu kedokteran mmg bayi baru lahir rata2 akan kehilangan BB sampai max10%. Arka waktu plg dari rumah sakit berapa BBnya? Kemudian, dlm waktu 2 minggu setelah bayi pulang ke rumah, diharapkan BB sudah naik lagi ke BB lahir.

Kemungkinan yang terjadi adalah ada kenaikan BB tetapi sangat lambat (diharapkan dlm 3 bln pertama kenaikan BB adlh min 500gr/bln). Kenapa? Nah ini yang harus dicari penyebabnya.

Kalau dilihat dari frekuensi BAK dan BAB, Arka sepertinya sudah cukup mendapatkan ASI. Tetapi ASI yang mana? Yang foremilk (kandungan lemak sedikit) atau yang hindmilk (kandungan lemak tinggi).

Berarti skrg harus dilihat, Arka menyusu secara EFEKTIF atau tidak? Lama dan sering menyusunya bukan berarti bayi minum ASI secara efektif. Yang perlu diperhatikan:

1. Pelekatan sdh benar atau blm;
2. Apakah terlihat bayi MINUM setiap kali menyusu, atau ternyata hanya ngempeng saja?
3. Bayi yg pelekatannya sdh benar bisa saja ternyata lebih sering ngempeng, kenapa..? Karena aliran ASInya kurang/tidak deras shg bayi malas mengisap dan kemudian jadi sedikit minum ASI. Untuk ini, bisa dicoba teknik breastcompression (meremas payudara) setiap kali terlihat bayi mengisap tetapi tidak menelan.

Jangan lupa tetap mengkonsumsi makanan2 yg dipercaya dapat meningkatkan produksiASI, tmsk makanan2 yg tinggi protein.

Kalau ternyata permasalahannya karena produksi ASI rendah, bisa dicoba juga utk konsultasi dgn dokter ahli laktasi utk mengkonsumsi obat utk meningkatkan produksi ASI.

Setelah semua daya upaya utk meningkatkan produksi ASI sdh dilakukan, tmsk minum obat, tmsk memastikan bayi minum ASI dgn teknik breast compression, dan ternyata bayi tidak berkembang dgn baik...selama bayi msh dibwh 4bln bisa dipertimbangkan utk diberikan tambahan sufor. TAPI, sufor tidak diberikan dgn botol + dot,melainkan langsung di payudara ibu dengan teknik suplementasi menggunakan alat bantu laktasi (lactation aid).

Bunda Arka, mudah2an sedikit penjelasan saya bisa membantu...and remember, there is more to breastfeeding than just breastmilk.

Breastfeed with love...!!

Salam ASI!

Sabtu, 08 Agustus 2009

Waktu yang dibutuhkan untuk Perah ASI

>>Berapa lama sebaiknya waktu maximal kita memerah ASI? Apakah dampaknya bila melebihi waktu tersebut, apakah bisa mengakibatkan rusaknya jaringan PD?<<

Waktu max memerah ASI tergantung pada kondisi PD tiap ibu. Jika memakai pompa, baik manual maupun elektrik kita susah mengetahui apakah PD sudah kosong atau blm, sedang jika memerah dengan tangan, kita bisa tahu dengan mudah apakah PD sudah kosong/blm. Saya biasanya memerah max 10 menit. krn tdk bs meninggalkan meja lama2. dulu sebelum MPASI, saya memerah tiap 2 jam sekali. jadi dikantor saya memerah 5x. Kalau memerah dengan tangan, saat terpancing dgn LDR sampai 2x, biasanya PD sudah agak kosong. tp PD tdk seperti botol dot yang bisa habis bis bis total, tentu PD tdk sepenuhnya kosong, tp bisa dikosongkan dgn agak maximal dgn memerah tangan.

Saya ga pernah pakai waktu sebagai target ngumpulin ASIP, tapi jujur aja saya pakai botol ukur untuk menentukan target. Kl biasanya 3 jam sekali dapat 120cc, maka saya akan berjuang supaya hasil perahan tetap stabil 120 cc selama 3 jam.. Meskipun kadang terlambat 4jam beru merah, ya target bertambah jadi paling tidak mendekati 160cc.. ( Kondisi ini saya berlakukan karena saya full menyusui dengan ASIP saja, jd saya tahu kebiasaan bayi saya sekali minum berapa cc..)

Jujur aja krn kesibukan kadang telat2 merah itu biasa.. Makanya saya kejar target.. Rekor telat memerah selama 12 jam,n akhirnya memerah selama 1 jam.. (untungnya malem hari, jadi ga ada yg protes..) yah, dapetnya memang agak berkurang cuma jadi 3 botol @160cc.. Udahannya berjuang lagi biar target semula tercapai lagi..

Meskipun punya pompa elektrik, sebaiknya juga belajar memerah dengan tangan. Kombinasi, awal2 pake pompa dl.. pas udah keluarnya sedikit2, baru pake tangan.. Biasanya masih banyak yg keluar.. Sebaiknya memerah ASI, sampai PD terasa kosong. Kl cara memerahnya benar, ga merusak jaringan PD koq..

>>Ketentuan waktu memerah tiap PD, apakah sampai satu PD kosong baru pindah, atau berdasarkan waktu tertentu untuk pindah ke PD satunya lagi?<<

Waktu memerah PD harus bergantian, misalnya PD kanan diperah sekitar 1 menit, setelah tetesannya agak berkurang, pindah ke kiri. jd LDR sedang terpicu, malah bisa menetes dua2nya. jd biasanya saya tampung PD yg sedang tidak diperah dgn gelas/tutup botol :) ya pinter2nya kita saja mengatur ritme perah.


Hehe.. Kl saya, masih sama seperti jawaban tadi.. kl satu PD dapet 60cc, maka PD satunya juga sebisa mungkin dapet 60cc.. Biar PD seimbang n ga gede sebelah..

>>Kalau misalnya PD saya masih terasa penuh, sementara waktu perahnya sdh cukup lama, sekitar 30 menit, apakah lebih baik saya terus memerah sampai PD Kosong (dengan menambah waktu), atau berhenti memerah walaupun PD masih isi, karena waktunya sdh cukup lama?<<

Memerah sampai 30 menit? pakai pompa ya.. hehehe. makanya itu tadi, saran saya pakai tangan, agar bisa merangsang si LDR keluar. kalau sudah 30 menit, itu rasanya sdh terlalu lama. bisa diteriakin sama teman kantor nanti. mending berhenti saja dan diperah lagi 2 jam berikutnya. kalau saya sih memang sudah membatasi utk memerah cuma 10 menit.

Yup... gpp.. Selama PD belum kosong, lanjut aja deh... Asal ga ada yg protes... hehehe...


Question by Sita - Mama Ardell (3m5d)

Blue by ayasha's mom(11m)

Green by Cella's mom (1y 2w)

Selasa, 28 April 2009

ASI/ASIP dalam masa MPASI

Lanjutan MP-ASI...

Untuk bayi 6-12 bulan, ASI tetap yang utama...walaupun nilai kalorinya berkurang (dari 70% kemudian jadi 55%)...makanya MPASI disebut sbg makanan pendamping ASI, bukan pengganti ASI (komplementer). Yang harus diingat, ASI tdk hanya mengandung kalori, tetapi juga vitamin dan mineral serta zat2 imunitas...memang benar mulai 6 bulan asupan zat besi tidak cukup hanya dari ASI saja, tetapi hrs dr sumber makanan lainnya juga...tapi ternyata, di tahun kedua (stlh anak lulus S2 ASI), jmlh zat2 imunitas dlm ASI justru bertambah.

Mungkin yang saya ingin coba sampaikan adalah:

1) Mengingat caloric content ASI yg berkurang, sebaiknya tidak gampang menyerah apabila bayi GTM dengan alasan "toh dia tetep minum ASI"...mungkin sbg solusi sementara tdk apa2, tetapi ada baiknya apabila tdk digunakan sbg long term solution;

2) Karena MPASI sifatnya komplementer, usahakan agar MPASI tidak menggantikan ASI... salah satu caranya adlh dgn menyusui atau memberikan ASIP terlebih dahulu sblm memberikan MPASI;

3) ASI diberikan 'on demand' dan MPASI diberikan 'on cue'...artinya, tetap susui bayi kapanpun dia mau, dan berikan MPASI juga sesuai dgn kemauannya berdasarkan tanda2 yg diberikan bayi ... ada kalanya bayi ingin lebih byk ASI, ada kalanya pengen makan lebih banyak... perhatikan keinginan bayi anda;

4) Kalaupun porsi MPASI semakin meningkat, dan menjelang 1thn lbh byk dari porsi ASI, bukan berarti ASI-nya sengaja dikurangi...usahakan agar konsumsi ASI-nya tetap sama;

5) Walaupun ASI tetap asupan utama utk bayi usia 6-12bln, bukan berarti kita tidak/kurang memperhatikan asupan MPASI-nya...guidelines utk pemberian MPASI ttp diperhatikan (when, where, how, how much, dll).

Pada akhirnya, yang terpenting adalah perhatikan apa yang diinginkan oleh bayi anda. Lagi GTM? Cari tahu penyebabnya (teething, mau sakit, bosan, dll), dan coba utk atasi... sementara itu perbanyak pemberian ASI-nya (temporary solution). Kadangkala alasan bayi GTM karena mmg butuh lbh byk asupan ASI... karena sdg teething jd butuh comfort sucking, atau mau sakit jadi butuh lbh byk zat imunitas.

So moms, tiap anak beda loh...and your baby is unique. Perhatikan tanda2 yang diberikan olehnya...kadang kala bisa more MPASI more ASI, atau more MPASI less ASI, more ASI less MPASI atau bahkan less MPASI less ASI. Bayi juga sudah bisa memilih loh, so let him decide when to have more and when to have less...tapi sambil tetep memperhatikan total asupan gizinya.

Breastfeed with love..!!

Sumber: Mia Sutanto,
Konselor Laktasi Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)
Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia

Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

Oleh: dr Ariani
Download : Makanan Pendamping ASI.pdf <http://www.ziddu.com/download/3902584/MakananPendampingASI.pdf.html>

Upaya peningkatan status kesehatan dan gizi bayi/anak umur 0-24 bulan melalui perbaikan perilaku masyarakat dalam pemberian makanan merupakan bagian yang dapat dipisahkan dari upaya perbaikan gizi secara menyeluruh.

Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan bayi dan anak, dan adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan, secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak, khususnya pada umur dibawah 2 tahun (baduta).

Bertambah umur bayi bertambah pula kebutuhan gizinya. Ketika bayi memasuki usia 6 bulan ke atas, beberapa elemen nutrisi seperti karbohidrat, protein dan beberapa vitamin dan mineral yang terkandung dalam ASI atau susu formula tidak lagi mencukupi. Sebab itu sejak usia 6 bulan, kepada bayi selain ASI mulai diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI ) Agar kebutuhan gizi bayi/anak terpenuhi.

Dalam pemberian MP-ASI perlu diperhatikan waktu pemberian MP-ASI , frekuensi, porsi, pemilihan bahan makanan, cara pembuatan dan cara pemberiannya. Disamping itu perlu pula diperhatikan pemberian makanan pada waktu anak sakit dan bila ibu bekerja di luar rumah.

Pemberian MP-ASI yang tepat diharapkan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, namun juga merangsang keterampilan makan dan merangsang rasa percaya diri.

*Pengertian MP-ASI *

· Makanan Pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

· MP-ASI merupakan proses transisi dari asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat. Untuk proses ini juga dibutuhkan ketrampilan motorik oral. Ketrampilan motorik oral berkembang dari refleks menghisap menjadi menelan makanan yang berbentuk bukan cairan dengan memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang.

· Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak .

· Pemberian MP-ASI yang cukup dalam hal kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini.

*Indikator bahwa bayi siap untuk menerima makanan padat :*

· Kemampuan bayi untuk mempertahankan kepalanya untuk tegak tanpa disangga

· Menghilangnya refleks menjulurkan lidah

· Bayi mampu menunjukkan keinginannya pada makanan dengan cara membuka mulut, lalu memajukan anggota tubuhnya ke depan untuk menunjukkan rasa lapar, dan menarik tubuh ke belakang atau membuang muka untuk menunjukkan ketertarikan pada makanan

*Permasalahan dalam pemberian MP-ASI *
Dari hasil beberapa penelitian menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada bayi dan anak disebabkan karena kebiasaan pemberian MP-ASI yang tidak tepat. Keadaan ini memerlukan penanganan tidak hanya dengan penyediaan pangan, tetapi dengan pendekatan yang lebih komunikatif sesuai dengan tingkat pendidikan dan kemampuan masyarakat. Selain itu ibu-ibu kurang menyadari bahwa setelah bayi berumur 6 bulan memerlukan MP-ASI dalam jumlah dan mutu yang semakin bertambah, sesuai dengan pertambahan umur bayi dan kemampuan alat cernanya.

Beberapa permasalahan dalam pemberian makanan bayi/anak umur 0-24 bulan :

1. Pemberian Makanan Pralaktal (Makanan sebelum ASI keluar)

Makanan pralaktal adalah jenis makanan seperti air kelapa, air tajin, air teh, madu, pisang, yang diberikan pada bayi yang baru lahir sebelumASI keluar.Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi, dan mengganggu keberhasilan menyusui.

2. Kolostrum dibuang

Kolostrum adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama, kental dan berwarna kekuning-kuningan. Masih banyak ibu-ibu yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya. Kolostrum mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari penyakit dan mengandung zat gizi tinggi. Oleh karena itu kolostrum jangan dibuang.

3. Pemberian MP-ASI terlalu dini atau terlambat

Pemberian MP-ASI yang terlalu dini (sebelum bayi berumur 6 bulan)menurunkan konsumsi ASI dan gangguan pencernaan/diare. Kalau pemberian MP-ASI terlambat bayi sudah lewat usia 6 bulan dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan anak.

4. MP-ASI yang diberikan tidak cukup

Pemberian MP-ASI pada periode umur 6-24 bulan sering tidak tepat dan tidak cukup baik kualitas maupun kuantitasnya. Adanya kepercayaan bahwa anak tidak boleh makan ikan dan kebiasaan tidak menggunakan santan atau minyak pada makanan anak, dapat menyebabkan anak menderita kurang gizi terutama energi dan protein serta beberapa vitamin penting yang larut dalam lemak.

5. Pemberian MP-ASI sebelum ASI

Pada usia 6 bulan, pemberian ASI yang dilakukan sesudah MP-ASI dapat menyebabkan ASI kurang dikonsumsi. Pada periode ini zat-zat yang diperlukan bayi terutama diperoleh dari ASI . Dengan memberikan MP-ASI terlebih dahulu berarti kemampuan bayi untuk mengkonsumsi ASI berkurang, yang berakibat menurunnya produksi ASI . Hal ini dapat berakibat anak menderita kurang gizi. Seharusnya ASI diberikan dahulu baru MP-ASI .

6. Frekuensi pemberian MP-ASI kurang

Frekuensi pemberian MP-ASI dalam sehari kurang akan berakibat kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi.

7. Pemberian ASI terhenti karena ibu kembali bekerja

Di daerah kota dan semi perkotaan, ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini pada ibu-ibu yang bekerja karena kurangnya pemahaman tentang manajemen laktasi pada ibu bekerja. Hal ini menyebabkan konsumsi zat gizi rendah apalagi kalau pemberian MP-ASI pada anak kurang diperhatikan

8. Kebersihan kurang

Pada umumnya ibu kurang menjaga kebersihan terutama pada saat menyediakan dan memberikan makanan pada anak. Masih banyak ibu yang menyuapi anak dengan tangan, menyimpan makanan matang tanpa tutup makanan/tudung saji dan kurang mengamati perilaku kebersihan dari pengasuh anaknya. Hal ini memungkinkan timbulnya penyakit infeksi seperti diare (mencret) dan lain-lain.

9. Prioritas gizi yang salah pada keluarga

Banyak keluarga yang memprioritaskan makanan untuk anggota keluarga yang lebih besar, seperti ayah atau kakak tertua dibandingkan untuk anak baduta dan bila makan bersama-sama anak baduta selalu kalah.

*Sumber :*
1. Departemen Kesehatan. Pedoman Pemberian Makanan Pendamping ASI . Jakarta: 2000
2. Dr.dr. Hananto Wiryo,SpA. Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu Hamil danmenyusui dengan Makanan Lokal.Sagung Seto. Jakarta :2002

Selasa, 17 Maret 2009

Metode Pemberian ASIP

Namanya juga ASI Perah, jadi ya ga mungkin langsung dari PD...
Artikel ini ga saya ambil dari mana2.. Ini hanya hasil sharing2 antara saya n teman2 calon DSA (alias yg lagi ambil spesialis... Thanks guys...)

Cara pemberian:
* Sendok bayi
Cara yg paling sering direkomen, karena tidak menyebabkan bingung puting. Namun dibutuhkan kesabaran.. apalagi awal2 pemberian..
* Botol bayi
Memang lebih praktis n susu tidak tumpah kemana2. Tapi hati2 menyebabkan bayi bingung puting.. (walaupun ada juga bayi yg bisa mudah beradaptasi sehingga mau ASI langsung namun ga bingung kl pas disusui ASIP pake dot)
* Spuit, tanpa needle tentunya...
Spuit yang dibutuhkan sebaiknya berukuran besar (minimal spuit 25 cc). Sebenernya ini hanya salah satu alternatif tambahan jika sendok bayi terlalu merepotkan. Agar bayi tidak bingung puting n susu tidak tumpah kemana2. Namun kendalanya, pemberiannya juga dibutuhkan kesabaran dan cari spuitnya pun tidak mudah (hanya ada di beberapa rumah sakit tertentu).
* Gelas bayi dengan pipetnya
Untuk bayi yang sudah lebih besar n lebih mahir menggunakan gelas, alternatif ini dapat digunakan sebagai pilihan.
Posting kali ini, ditunggu masukannya dari teman2 semua... terutama yang sedang berjuang ASI melalui ASIP... ^__^v

Kamis, 05 Maret 2009

Amankah Botol Susu Si Kecil?

Yakinkah Anda dengan keamanan botol susu si kecil? Hati-hati! Ternyata benda yang sangat akrab dengan si kecil itu bisa mengeluarkan bahan kimia beracun dan berbahaya; bisphenol-A (BPA). Bisphenol-A (BPA) adalah monomer yang digunakan untuk menghasilkan plastik polikarbonat yang banyak digunakan untuk pembuatan botol susu. BPA ini pulalah yang membuat botol susu menjadi tahan lama dan tampak mengkilat. Tak hanya pada botol susu, BPA juga digunakan sebagai campuran plastik untuk membuat gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa BPA dapat berpindah ke dalam minuman atau makanan jika suhunya dinaikkan karena pemanasan. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas. Peneliti dari University of Cincinnati menemukan, eksposur terhadap air mendidih menyebabkan botol plastik polikarbonat melepaskan BPA hingga 55 kali lebih cepat dari air dingin atau air bertemperatur normal.

Menurut Sun C.L dari Departement of Chemistry, Faculty of Science, National University of Singapore, BPA termasuk dalam kelompok bahan kimia yang dikenal sebagai endokrin pengganggu yang menghalangi aktivitas hormon natural dalam tubuh, terutama estrogen. Padahal, hormon dibutuhkan pada hampir setiap proses biologis seperti fungsi imunitas, reproduksi, pertumbuhan bahkan mengontrol hormon lainnya di dalam tubuh. “Mereka bekerja dalam konsentrasi yang sangat kecil. Karena itu dosis yang kecil sekali pun dari endokrin pengganggu dapat membahayakan,” tulis Sun dalam karya ilmiahnya, Migration of Bisphenol A in Baby Milk Bottles.

Sun memaparkan, penemuan terbaru menunjukkan bahwa ada korelasi antara BPA dengan penurunan produksi sperma, penambahan berat prostat, dan kanker testis pada laki-laki. Sementara pada perempuan, BPA berpotensi mengakibatkan ketidaknormalan perkembangan endometrium yang dapat menyebabkan infertilitas serta meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Sun menerangkan, anak-anak, terutama bayi yang masih dalam kandungan dan bayi yang baru lahir, memiliki risiko yang paling besar terhadap bahan kimia tersebut. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang dapat berdampak selama periode emas pertumbuhan anak, meskipun akibatnya tidak langsung tampak.

Untuk menghindari atau meminimalisir dampak BPA pada si kecil, spesialis anak Dr. Steven Parker, memberikan beberapa tips berikut:

* Hindari penggunaan botol polikarbonat yang mengandung BPA. Sebagai gantinya gunakan botol bebas BPA, atau botol yang terbuat dari gelas/kaca.

* Ketika membeli botol plastik, pilihlah botol yang menggunakan polypropylene/polyethylene, yang tidak keras dan tidak mengkilat.

* Carilah tanda "BPA-free" pada kaleng atau botol susu yang Anda beli.

* Hindari pemberian teether berbahan plastik/vinyl pada bayi.

* Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik karena dapat memicu pelepasan BPA. Sebagai gantinya, gunakanlah wadah gelas/kaca atau keramik.

* Cucilah botol dan wadah plastik dengan spons agar tidak merusak lapisan plastiknya.

* Belajar membaca kandungan dalam plastik. Singkirkan produk plastik yang mengandung bahan-bahan seperti DBP dan DEP, DEHP, DMP. Gunakan polyethylene (#5), dan hindari polikarbonat (#7).

* Jangan gunakan lagi botol plastik yang sudah tergores/rusak atau kusam.

*source http://www.inspiredkidsmagazine.com/

Bahan Pembersih Perlengkapan Bayi Dan Anak

Meski mengandung unsur kimia, bahan pembersih yang dibuat khusus untuk perlengkapan bayi dan anak relatif aman.
Bahan-bahan pembersih selalu mengandung unsur kimia dan mikroorganisme yang bisa berdampak buruk pada kesehatan. Adalah bayi dan anak-anak yang paling sensitif menghadapi kedua unsur ini. Itulah sebabnya, beberapa produsen bahan pembersih mengeluarkan produk khusus untuk mencuci perlengkapan bayi dan anak-anak.
Memang, bahan pembersih piranti dan pakaian ini tidak bersentuhan langsung dengan anak. Si kecil, kan, tidak mencuci sendiri baju atau mainannya, sehingga efek sampingnya bukan berupa iritasi atau keracunan akibat terhirup. Yang jelas, kata Dr. rer.nat. Budiawan, bahan-bahan pembersih yang dikhususkan bagi pakaian dan perabotan bayi dan anak-anak menggunakan bahan-bahan kimia yang lebih rendah kadar racunnya, sehingga relatif lebih aman.
Direktur Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan, FMIPA-Universitas Indonesia ini menambahkan, bahan-bahan pembersih seperti deterjen khusus untuk perlengkapan anak tetap mengandung surfaktan (bahan kimia sintetik di dalam deterjen), tetapi kadarnya tidak sekeras seperti dalam deterjen umumnya. "Bahan-bahan pembersih ini juga memiliki kadar pH yang lebih rendah, tapi kemampuan membersihkannya sama saja," lanjut pria yang juga aktif sebagai dosen toksilogi di fakultasnya.
"Namun jangan lupa, perhatikan cara pemakaian dan takaran yang dianjurkan," tambah Budiawan. Bukankah umumnya ibu-ibu suka menambahkan takaran agar busanya banyak? Padahal, busa bukanlah unsur utama dalam proses pembersihan. "Busa yang lebih banyak tidak berarti bisa membersihkan lebih bersih. Malah, busa yang berlimpah-limpah ini bisa membebani lingkungan karena mengandung zat-zat kimia aktif," tandasnya.

BUKAN SUATU KEHARUSAN
Umumnya kadar pH pada deterjen khusus untuk balita sudah dibuat rendah dengan kemampuan mencuci yang menyamai deterjen biasa. Jika pH pada deterjen biasa berkisar antara 10-11, maka pada deterjen khusus balita ini, nilai pH layaknya netral, yaitu sekitar 7. "Kotoran yang melekat di baju anak umumnya kan berupa lemak, seperti susu, makanan, serta feses. Nah, proses pencucian dengan pH ini cukuplah untuk membersihkan kotoran-kotoran tersebut," papar Budiawan.
Disamping itu, deterjen ini umumnya telah ditambah dengan zat kimia yang sifatnya tidak mengganggu sifat deterjen itu sendiri. Contohnya, jika dicuci memakai deterjen biasa tanpa bahan pelembut, topi wol bayi akan terasa kaku. Namun dengan deterjen khusus (deterjen dengan tambahan pelembut), bahan wol akan tetap lembut. "Jadi, tetap nyaman dipakai oleh si bayi atau anak, sehingga tak membuatnya rewel."
Walau begitu, bukan suatu keharusan, kok, untuk memakai deterjen khusus ini. Terutama jika harganya dianggap mahal dan didapatnya pun tak mudah. Budiawan menyarankan, pakai saja sabun mandi batangan atau cair, atau deterjen biasa yang kadar pH-nya netral. "Tak masalah sepanjang kandungan zat-zat kimianya tidak mengubah fisik tekstil."

MEMBERSIHKAN BOTOL SUSU
DI pasaran juga beredar sabun cair khusus untuk membersihkan botol susu. "Prinsipnya sama saja dengan deterjen, yaitu nilai pH yang netral, tetap mengandung surfaktan, kemudian juga mengandung zat-zat aktif lain seperti antibakteri. Jadi disamping membersihkan, sabun ini juga diharapkan bisa menghilangkan kuman," komentar Budiawan.
Yang penting, setelah dicuci dan dibilas sampai bersih, botol susu harus disterilisasi dengan cara direbus atau diuap menggunakan alat pensteril elektrik. Jadi, menggunakan sabun cair biasa untuk membersihkan botol susu pun sebenarnya bisa dilakukan. Toh, setelah itu masih ada proses sterilisasi yang lebih menjamin kebersihan botol susu. Hanya saja, pilih sabun yang pH-nya netral. Alasannya, bila dicuci dengan sabun ber-pH alkalis atau pH > 8, kemungkinan botol atau wadah plastik yang dipanaskan sampai suhu tertentu mengalami pengikisan lapisan plastik. Hal ini harus dicegah mengingat kikisan ini bisa terlarut dalam susu atau tercampur dengan makanan.

MEMBERSIHKAN MAINAN
"CARA membersihkan mainan anak ditentukan oleh bahan mainan itu sendiri," kata Budiawan.
* Mainan dari kayu
Cukup diseka dengan lap basah, lalu dikeringkan. Jangan digosok keras-keras dengan sabun yang bisa membuat cat di kayu tersebut luntur atau mengelupas. Lunturan dan kelupasan ini, bila sampai termakan oleh anak, bisa berbahaya karena cat dapat mengandung timbal, merkuri dan pelarut organik ataupun formalin yang bisa merusak saraf dan hati. Supaya aman, dianjurkan memilih mainan berbahan kayu yang dicat dengan cat antitoksin. Masalahnya, di Indonesia belum semua produsen mau mencantumkan bahan yang digunakan pada mainan buatannya. Orang tua memang harus ekstra hati-hati dalam memilih mainan ini.
* Mainan dari bahan plastik
Mainan jenis ini bisa dicuci dengan sabun cair, lalu dibilas sampai benar-benar bersih. Yang perlu diingat, mainan plastik mengandung bahan ftalat yang dapat membahayakan kesehatan. Bila anak sering menggigit mainan plastiknya, maka akan terjadi proses migrasi. Ftalat masuk ke dalam mulut. Makanya, mainan dari plastik yang sudah tergigit atau bolong, lebih baik disingkirkan saja. Terutama jika si anak masih berusia bayi atau batita. Jangan dipakai main lagi.
- Untuk mengurangi risiko, sebelum digunakan, mainan baru dari plastik ini sebaiknya dicuci dengan air panas. Dengan demikian residu kimia yang ada akan terbilas agar mainan itu tidak membahayakan kesehatan anak.

BETULKAN YANG SALAH KAPRAH
TANPA disadari, kadang kita menebar racun bagi diri sendiri. "Begitu banyak bahan beracun dan berbahaya di sekitar kita yang ternyata bisa dengan mudah membahayakan kesehatan. Biasanya bahaya datang karena kita tak tahu cara menggunakan suatu bahan dengan semestinya," ujar Budiawan. Inilah contohnya:
* Penggunaan deterjen secara berlebihan untuk mendapatkan busanya. Padahal, banyaknya busa tak ada kaitannya dengan bersihnya baju yang dicuci.
* Mencuci sayur dan buah-buahan dengan sabun pembersih boleh saja dilakukan. Namun kemudian harus dibilas bersih-bersih dengan air matang, dua atau tiga kali. Biar bagaimanapun, sabun pembersih
mengandung bahan kimia sintetis yang seharusnya tidak masuk ke dalam tubuh manusia.
* Bila mencuci dengan deterjen, hindari kontak langsung dengan kulit tangan, karena akan menimbulkan iritasi pada kulit. Lebih baik gunakan sarung tangan plastik.
* Pembersih lantai yang sering kita sebut karbol mengandung derivat fenol atau cresol yang sifatnya disinfektan dan juga senyawa klor yang menyebabkan korosit. Bayangkan bila zat yang bersifat korosit ini masuk ke tubuh si kecil yang kita sayangi. Bagaimana bisa?
Ketika habis mengepel dengan karbol, lantai memang tampak "kinclong" karena kotoran menghilang. Tapi tahukah bahwa zat-zat kimia pembersih lantai masih tetap menempel di lantai? Sementara itu, si kecil ingin bebas merangkak dengan jari-jari tangannya. Coba bayangkan bila kemudian si kecil memasukkan tangannya ke mulut? Oleh sebab itu, jangan ragu membilas kembali lantai yang sudah dipel dengan air bersih untuk menghilangkan karbol yang menempel. Repot sedikit, tapi aman buat si kecil. Pakai karbol sesuai takaran.
* Jangan mencampur deterjen dengan pemutih. Pemutih mengandung senyawa organoklor yang bila tercampur dengan deterjen yang bersifat asam, misalnya deterjen yang diberi lemon, akan menghasilkan gas yang disebut gas klor. Bila terhirup, akan menyebabkan efek seketika seperti tenggorokan sakit, iritasi saluran napas, batuk, dan sesak napas. Dampak jangka panjangnya, bisa menyebabkan kerusakan paru-paru yang kronis.
* Yang lebih penting, hindari sebisa mungkin kontak tubuh dengan bahan kimia beracun dan berbahaya. Tujuannya agar kadar zat tersebut pada diri kita tidak melampaui batas toleransi tubuh sehingga tidak menimbulkan risiko atau gangguan kesehatan.

MINIMALKAN RISIKO B3
B3 adalah kependekan dari istilah bahan berbahaya dan beracun. Digolongkan sebagai B3 jika sifat, konsentrasi, dan atau jumlah bahan tersebut, baik secara langsung maupun tidak dapat mencemarkan dan merusak lingkungan hidup, serta dapat membahayakan kesehatan manusia. Lebih terperinci lagi, suatu senyawa dikatakan sebagai B3 jika memiliki salah satu sifat seperti dapat terbakar, dapat meledak, bersifat korosif, menyebabkan iritasi, mengandung bahan radioaktif, terurai menjadi oksigen pada suhu tinggi, dan beracun atau toksik (karsinogenik, teratogenik, dan mutagenik).
Asal tahu saja, risiko B3 di sekitar kita bukan hanya terdapat pada deterjen dan pembersih lantai, tapi juga pembasmi serangga, rokok, radiasi, AC, dan masih banyak lagi, termasuk makanan serta air. Sayangnya, keracunan yang paling banyak disoroti biasanya yang bersifat jangka pendek. "Jarang sekali kita mempersoalkan dampak B3 yang mengancam manusia dalam jangka waktu panjang. Sebut saja kerusakan organ tubuh atau keracunan secara permanen setelah mengonsumsi makanan tertentu," kata Budiawan.
Sebagai contoh, jika seseorang mengonsumsi bahan B3 atau terpapar hanya sedikit, seringkali akibatnya tak terasa secara langsung. Kecuali bila yang terhirup adalah pestisida atau gas klor (campuran pemutih dengan bahan bersifat asam), mungkin yang bersangkutan akan langsung merasa sesak napas, mual dan sakit kepala. Padahal dalam jangka panjang, paparan asap atau uap bahan antinyamuk akan terakumulasi dalam tubuh dan menimbulkan kerusakan kronis yang bisa menyebabkan demam, anuria, koma, merangsang SSP (sistem saraf pusat), depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, bahkan kematian.
Oleh karena itulah, kita perlu meminimalkan risiko B3. Caranya antara lain:
* Jauhkan dari jangkauan anak-anak semua alat-alat dan pembersih rumah tangga yang mengandung B3, seperti pembersih, pestisida, alat listrik yang mengandung radiasi, dan lain-lain.
* Simpan bahan yang mengandung B3 di tempat sejuk dan jauh dari sinar matahari.
* Sirkulasi udara di rumah harus cukup.
* Pakai sarung tangan bila bekerja dengan bahan korosif.
* Bila terkena mata/kulit, segera bilas dengan air yang banyak.
* Lakukan pola hidup bersih dan tidak berlebihan.

Ini salah satu link yang lengkap juga tentang produk yang mengandung BPA dan tidak :
http://zrecs.blogspot.com/2007/11/z-report-bisphenol-in-baby-bottles-and.html

Sumber: asiuntukbayiku.multiply.com