Yakinkah Anda dengan keamanan botol susu si kecil? Hati-hati! Ternyata benda yang sangat akrab dengan si kecil itu bisa mengeluarkan bahan kimia beracun dan berbahaya; bisphenol-A (BPA). Bisphenol-A (BPA) adalah monomer yang digunakan untuk menghasilkan plastik polikarbonat yang banyak digunakan untuk pembuatan botol susu. BPA ini pulalah yang membuat botol susu menjadi tahan lama dan tampak mengkilat. Tak hanya pada botol susu, BPA juga digunakan sebagai campuran plastik untuk membuat gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa BPA dapat berpindah ke dalam minuman atau makanan jika suhunya dinaikkan karena pemanasan. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas. Peneliti dari University of Cincinnati menemukan, eksposur terhadap air mendidih menyebabkan botol plastik polikarbonat melepaskan BPA hingga 55 kali lebih cepat dari air dingin atau air bertemperatur normal.
Menurut Sun C.L dari Departement of Chemistry, Faculty of Science, National University of Singapore, BPA termasuk dalam kelompok bahan kimia yang dikenal sebagai endokrin pengganggu yang menghalangi aktivitas hormon natural dalam tubuh, terutama estrogen. Padahal, hormon dibutuhkan pada hampir setiap proses biologis seperti fungsi imunitas, reproduksi, pertumbuhan bahkan mengontrol hormon lainnya di dalam tubuh. “Mereka bekerja dalam konsentrasi yang sangat kecil. Karena itu dosis yang kecil sekali pun dari endokrin pengganggu dapat membahayakan,” tulis Sun dalam karya ilmiahnya, Migration of Bisphenol A in Baby Milk Bottles.
Sun memaparkan, penemuan terbaru menunjukkan bahwa ada korelasi antara BPA dengan penurunan produksi sperma, penambahan berat prostat, dan kanker testis pada laki-laki. Sementara pada perempuan, BPA berpotensi mengakibatkan ketidaknormalan perkembangan endometrium yang dapat menyebabkan infertilitas serta meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Sun menerangkan, anak-anak, terutama bayi yang masih dalam kandungan dan bayi yang baru lahir, memiliki risiko yang paling besar terhadap bahan kimia tersebut. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang dapat berdampak selama periode emas pertumbuhan anak, meskipun akibatnya tidak langsung tampak.
Untuk menghindari atau meminimalisir dampak BPA pada si kecil, spesialis anak Dr. Steven Parker, memberikan beberapa tips berikut:
* Hindari penggunaan botol polikarbonat yang mengandung BPA. Sebagai gantinya gunakan botol bebas BPA, atau botol yang terbuat dari gelas/kaca.
* Ketika membeli botol plastik, pilihlah botol yang menggunakan polypropylene/polyethylene, yang tidak keras dan tidak mengkilat.
* Carilah tanda "BPA-free" pada kaleng atau botol susu yang Anda beli.
* Hindari pemberian teether berbahan plastik/vinyl pada bayi.
* Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik karena dapat memicu pelepasan BPA. Sebagai gantinya, gunakanlah wadah gelas/kaca atau keramik.
* Cucilah botol dan wadah plastik dengan spons agar tidak merusak lapisan plastiknya.
* Belajar membaca kandungan dalam plastik. Singkirkan produk plastik yang mengandung bahan-bahan seperti DBP dan DEP, DEHP, DMP. Gunakan polyethylene (#5), dan hindari polikarbonat (#7).
* Jangan gunakan lagi botol plastik yang sudah tergores/rusak atau kusam.
*source http://www.inspiredkidsmagazine.com/
Tampilkan postingan dengan label botol susu bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label botol susu bayi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 Maret 2009
Senin, 22 Desember 2008
Kode Di Bawah Botol Susu & Botol Plastik
Dibawah tiap botol susu ada kode dalam segitiga dimana ada beberapa kode yang sebaiknya jangan dipakai untuk bayi. Segitiga yang dimaksud adalah Resin identification code dimana kode ini dipakai untuk menentukan type dari bahan plastik supaya nantinya bahan tersebut bisa dipilah untuk di daur-ulang.
PETE or PET Polyethylene terephthalate
PETE atau PET (polyethyleneterephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus,dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan #1 dan#2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.
HDPE
High density polyethylene HDPE (high density polyethylene) biasadipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti #1 PET,#2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.
PVC
or V Polyvinyl chloride V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
LDPE
Low density polyethylene LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.
PP
Polypropylene PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.
PS
Polystyrene PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok,asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.
OTHER
acrylonitrile butadiene styrene acrylic, polycarbonate, polylacticacid, nylon,fiberglass. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga.Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A kedalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon.Hindari bahan plastik Polycarbonate.
Saran sederhana :
* Selalu teliti saat membeli barang plastik
* Baca dan ikutin aturan pemakaian dengan benar
* Cuci, sterilkan dan simpan barang plastik anda di tempat aman (teduh,bebas debu, tidak lembab dan kalo bisa tertutup)
* Ganti peralatan pastik secara berkala (misalnya: peralatan makan, botol,dot, dsb)
PETE or PET Polyethylene terephthalate
PETE atau PET (polyethyleneterephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus,dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan #1 dan#2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.
HDPE
High density polyethylene HDPE (high density polyethylene) biasadipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti #1 PET,#2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.
PVC
or V Polyvinyl chloride V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
LDPE
Low density polyethylene LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.
PP
Polypropylene PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.
PS
Polystyrene PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok,asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.
OTHER
acrylonitrile butadiene styrene acrylic, polycarbonate, polylacticacid, nylon,fiberglass. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga.Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A kedalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon.Hindari bahan plastik Polycarbonate.
Saran sederhana :
* Selalu teliti saat membeli barang plastik
* Baca dan ikutin aturan pemakaian dengan benar
* Cuci, sterilkan dan simpan barang plastik anda di tempat aman (teduh,bebas debu, tidak lembab dan kalo bisa tertutup)
* Ganti peralatan pastik secara berkala (misalnya: peralatan makan, botol,dot, dsb)
Label:
botol plastik,
botol susu bayi,
kode
Memilih Botol Susu
Umumnya para ibu menyadari benar bahwa ASI adalah makanan terbaik untuk bayinya. Namun karena beberapa alasan, tidak tertutup kemungkinan seorang ibu harus memberi ASI dengan bantuan botol susu. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memilih botol susu:
1. Sesuaikan Ukuran Botol
Di pasaran terdapat berbagai ukuran botol yang biasanya menyatu dengan dot. Untuk ukuran kecil 30-50 ml, sedang 120 ml, dan besar di atas 200 ml. Sesuaikan dengan kebutuhan asupan susu si kecil pada setiap kali minum. Ingat, sangat tidak dianjurkan untuk menyisakan susu dalam botol.
2. Bahan Tahan Panas, Tak Mudah Pecah dan Tak Beracun
Sehingga proses sterilisasi bisa dilakukan dengan aman dan mudah. Botol yang terbuat dari bahan gelas lebih awet, tahan lama, dan proses sterilisasinya mudah. Hanya saja, botol ini cukup berat hingga kurang nyaman digunakan, disamping mudah pecah. Berbeda dengan botol plastik yang lebih tahan lama. Bayi pun aman memegang botolnya sendiri.
3. Tidak Banyak Gambar
Sebab gambar-gambar itu berisiko terkelupas saat disterilisasi dalam air mendidih. Sedangkan botol dengan aksesori, seperti kepala boneka atau mainan boleh saja dijadikan pilihan, selama tak menyulitkan proses sterilisasi atau pemberian susu kepada bayi.
4. Memiliki Ring Pengatur Deras
Jika diputar ke arah tertentu, aliran susu akan semakin deras atau sebaliknya. Ada tiga pengaturan yang baku, yaitu lambat, sedang, dan cepat. Jadi, bisa distel sesuai kebutuhan.Jika bayi mengalami kelainan jantung, sangat dianjurkan memiliki kelengkapan ini, karena bayi tak dianjurkan mengisap air susu terlalu deras. Jika tidak, napas bayi bisa tersengal-sengal bahkan menimbulkan tersedak.Ini juga bisa digunakan terutama untuk bayi 0-3 bulan. Dengan regulator, maka isi susu tidak keluar jika tidak diisap. Pun saat sedang menyusu lalu bayi terlelap tidur, keberadaan regulator sangat membantu.Tidak cuma itu. Sekat ini juga berguna untuk menahan aliran susu jika botol miring/terbalik. Saat bepergian dimana kita sering menyimpan botol dalam tas, tak ada kekhawatiran lagi air susu akan tumpah.
5. Botol Susu dengan Pegangan
Untuk bayi 6 bulan ke atas, beri kesempatan pada si kecil untuk memegang botolnya sendiri. Dengan begitu, selain menikmati susu, kemampuan motoriknya juga akan terlatih
Pemakaian dan Sterilisasi
1. Susui dengan Benar
Posisi kepala bayi berada lebih tinggi dibanding perut. Selain itu, posisi botol harus tepat, sehingga air susu mengalir penuh ke lubang dot. Pastikan tak ada ruang untuk udara di dalam botol. Jika kesulitan, Anda bisa memilih botol bengkok yang menghindari udara berada dalam botol saat diisap.
2. Perhatikan Sterilisasi Botol dan Dot
Cuci bersih botol dan dot berikut peralatan pelengkapnya
perhatikan petunjuk sterilisasi produk. Ada beberapa produk dot atau botol yang tak boleh direbus atau terkena air mendidih .
Lakukan dengan cairan atau tablet khusus. Cairan sterilisasi itu aman digunakan selama 24 jam
Sumber : http://mommygadget.com
1. Sesuaikan Ukuran Botol
Di pasaran terdapat berbagai ukuran botol yang biasanya menyatu dengan dot. Untuk ukuran kecil 30-50 ml, sedang 120 ml, dan besar di atas 200 ml. Sesuaikan dengan kebutuhan asupan susu si kecil pada setiap kali minum. Ingat, sangat tidak dianjurkan untuk menyisakan susu dalam botol.
2. Bahan Tahan Panas, Tak Mudah Pecah dan Tak Beracun
Sehingga proses sterilisasi bisa dilakukan dengan aman dan mudah. Botol yang terbuat dari bahan gelas lebih awet, tahan lama, dan proses sterilisasinya mudah. Hanya saja, botol ini cukup berat hingga kurang nyaman digunakan, disamping mudah pecah. Berbeda dengan botol plastik yang lebih tahan lama. Bayi pun aman memegang botolnya sendiri.
3. Tidak Banyak Gambar
Sebab gambar-gambar itu berisiko terkelupas saat disterilisasi dalam air mendidih. Sedangkan botol dengan aksesori, seperti kepala boneka atau mainan boleh saja dijadikan pilihan, selama tak menyulitkan proses sterilisasi atau pemberian susu kepada bayi.
4. Memiliki Ring Pengatur Deras
Jika diputar ke arah tertentu, aliran susu akan semakin deras atau sebaliknya. Ada tiga pengaturan yang baku, yaitu lambat, sedang, dan cepat. Jadi, bisa distel sesuai kebutuhan.Jika bayi mengalami kelainan jantung, sangat dianjurkan memiliki kelengkapan ini, karena bayi tak dianjurkan mengisap air susu terlalu deras. Jika tidak, napas bayi bisa tersengal-sengal bahkan menimbulkan tersedak.Ini juga bisa digunakan terutama untuk bayi 0-3 bulan. Dengan regulator, maka isi susu tidak keluar jika tidak diisap. Pun saat sedang menyusu lalu bayi terlelap tidur, keberadaan regulator sangat membantu.Tidak cuma itu. Sekat ini juga berguna untuk menahan aliran susu jika botol miring/terbalik. Saat bepergian dimana kita sering menyimpan botol dalam tas, tak ada kekhawatiran lagi air susu akan tumpah.
5. Botol Susu dengan Pegangan
Untuk bayi 6 bulan ke atas, beri kesempatan pada si kecil untuk memegang botolnya sendiri. Dengan begitu, selain menikmati susu, kemampuan motoriknya juga akan terlatih
Pemakaian dan Sterilisasi
1. Susui dengan Benar
Posisi kepala bayi berada lebih tinggi dibanding perut. Selain itu, posisi botol harus tepat, sehingga air susu mengalir penuh ke lubang dot. Pastikan tak ada ruang untuk udara di dalam botol. Jika kesulitan, Anda bisa memilih botol bengkok yang menghindari udara berada dalam botol saat diisap.
2. Perhatikan Sterilisasi Botol dan Dot
Cuci bersih botol dan dot berikut peralatan pelengkapnya
perhatikan petunjuk sterilisasi produk. Ada beberapa produk dot atau botol yang tak boleh direbus atau terkena air mendidih .
Lakukan dengan cairan atau tablet khusus. Cairan sterilisasi itu aman digunakan selama 24 jam
Sumber : http://mommygadget.com
Label:
botol susu bayi
Langganan:
Postingan (Atom)