Kamis, 05 Maret 2009

Bahan Pembersih Perlengkapan Bayi Dan Anak

Meski mengandung unsur kimia, bahan pembersih yang dibuat khusus untuk perlengkapan bayi dan anak relatif aman.
Bahan-bahan pembersih selalu mengandung unsur kimia dan mikroorganisme yang bisa berdampak buruk pada kesehatan. Adalah bayi dan anak-anak yang paling sensitif menghadapi kedua unsur ini. Itulah sebabnya, beberapa produsen bahan pembersih mengeluarkan produk khusus untuk mencuci perlengkapan bayi dan anak-anak.
Memang, bahan pembersih piranti dan pakaian ini tidak bersentuhan langsung dengan anak. Si kecil, kan, tidak mencuci sendiri baju atau mainannya, sehingga efek sampingnya bukan berupa iritasi atau keracunan akibat terhirup. Yang jelas, kata Dr. rer.nat. Budiawan, bahan-bahan pembersih yang dikhususkan bagi pakaian dan perabotan bayi dan anak-anak menggunakan bahan-bahan kimia yang lebih rendah kadar racunnya, sehingga relatif lebih aman.
Direktur Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan, FMIPA-Universitas Indonesia ini menambahkan, bahan-bahan pembersih seperti deterjen khusus untuk perlengkapan anak tetap mengandung surfaktan (bahan kimia sintetik di dalam deterjen), tetapi kadarnya tidak sekeras seperti dalam deterjen umumnya. "Bahan-bahan pembersih ini juga memiliki kadar pH yang lebih rendah, tapi kemampuan membersihkannya sama saja," lanjut pria yang juga aktif sebagai dosen toksilogi di fakultasnya.
"Namun jangan lupa, perhatikan cara pemakaian dan takaran yang dianjurkan," tambah Budiawan. Bukankah umumnya ibu-ibu suka menambahkan takaran agar busanya banyak? Padahal, busa bukanlah unsur utama dalam proses pembersihan. "Busa yang lebih banyak tidak berarti bisa membersihkan lebih bersih. Malah, busa yang berlimpah-limpah ini bisa membebani lingkungan karena mengandung zat-zat kimia aktif," tandasnya.

BUKAN SUATU KEHARUSAN
Umumnya kadar pH pada deterjen khusus untuk balita sudah dibuat rendah dengan kemampuan mencuci yang menyamai deterjen biasa. Jika pH pada deterjen biasa berkisar antara 10-11, maka pada deterjen khusus balita ini, nilai pH layaknya netral, yaitu sekitar 7. "Kotoran yang melekat di baju anak umumnya kan berupa lemak, seperti susu, makanan, serta feses. Nah, proses pencucian dengan pH ini cukuplah untuk membersihkan kotoran-kotoran tersebut," papar Budiawan.
Disamping itu, deterjen ini umumnya telah ditambah dengan zat kimia yang sifatnya tidak mengganggu sifat deterjen itu sendiri. Contohnya, jika dicuci memakai deterjen biasa tanpa bahan pelembut, topi wol bayi akan terasa kaku. Namun dengan deterjen khusus (deterjen dengan tambahan pelembut), bahan wol akan tetap lembut. "Jadi, tetap nyaman dipakai oleh si bayi atau anak, sehingga tak membuatnya rewel."
Walau begitu, bukan suatu keharusan, kok, untuk memakai deterjen khusus ini. Terutama jika harganya dianggap mahal dan didapatnya pun tak mudah. Budiawan menyarankan, pakai saja sabun mandi batangan atau cair, atau deterjen biasa yang kadar pH-nya netral. "Tak masalah sepanjang kandungan zat-zat kimianya tidak mengubah fisik tekstil."

MEMBERSIHKAN BOTOL SUSU
DI pasaran juga beredar sabun cair khusus untuk membersihkan botol susu. "Prinsipnya sama saja dengan deterjen, yaitu nilai pH yang netral, tetap mengandung surfaktan, kemudian juga mengandung zat-zat aktif lain seperti antibakteri. Jadi disamping membersihkan, sabun ini juga diharapkan bisa menghilangkan kuman," komentar Budiawan.
Yang penting, setelah dicuci dan dibilas sampai bersih, botol susu harus disterilisasi dengan cara direbus atau diuap menggunakan alat pensteril elektrik. Jadi, menggunakan sabun cair biasa untuk membersihkan botol susu pun sebenarnya bisa dilakukan. Toh, setelah itu masih ada proses sterilisasi yang lebih menjamin kebersihan botol susu. Hanya saja, pilih sabun yang pH-nya netral. Alasannya, bila dicuci dengan sabun ber-pH alkalis atau pH > 8, kemungkinan botol atau wadah plastik yang dipanaskan sampai suhu tertentu mengalami pengikisan lapisan plastik. Hal ini harus dicegah mengingat kikisan ini bisa terlarut dalam susu atau tercampur dengan makanan.

MEMBERSIHKAN MAINAN
"CARA membersihkan mainan anak ditentukan oleh bahan mainan itu sendiri," kata Budiawan.
* Mainan dari kayu
Cukup diseka dengan lap basah, lalu dikeringkan. Jangan digosok keras-keras dengan sabun yang bisa membuat cat di kayu tersebut luntur atau mengelupas. Lunturan dan kelupasan ini, bila sampai termakan oleh anak, bisa berbahaya karena cat dapat mengandung timbal, merkuri dan pelarut organik ataupun formalin yang bisa merusak saraf dan hati. Supaya aman, dianjurkan memilih mainan berbahan kayu yang dicat dengan cat antitoksin. Masalahnya, di Indonesia belum semua produsen mau mencantumkan bahan yang digunakan pada mainan buatannya. Orang tua memang harus ekstra hati-hati dalam memilih mainan ini.
* Mainan dari bahan plastik
Mainan jenis ini bisa dicuci dengan sabun cair, lalu dibilas sampai benar-benar bersih. Yang perlu diingat, mainan plastik mengandung bahan ftalat yang dapat membahayakan kesehatan. Bila anak sering menggigit mainan plastiknya, maka akan terjadi proses migrasi. Ftalat masuk ke dalam mulut. Makanya, mainan dari plastik yang sudah tergigit atau bolong, lebih baik disingkirkan saja. Terutama jika si anak masih berusia bayi atau batita. Jangan dipakai main lagi.
- Untuk mengurangi risiko, sebelum digunakan, mainan baru dari plastik ini sebaiknya dicuci dengan air panas. Dengan demikian residu kimia yang ada akan terbilas agar mainan itu tidak membahayakan kesehatan anak.

BETULKAN YANG SALAH KAPRAH
TANPA disadari, kadang kita menebar racun bagi diri sendiri. "Begitu banyak bahan beracun dan berbahaya di sekitar kita yang ternyata bisa dengan mudah membahayakan kesehatan. Biasanya bahaya datang karena kita tak tahu cara menggunakan suatu bahan dengan semestinya," ujar Budiawan. Inilah contohnya:
* Penggunaan deterjen secara berlebihan untuk mendapatkan busanya. Padahal, banyaknya busa tak ada kaitannya dengan bersihnya baju yang dicuci.
* Mencuci sayur dan buah-buahan dengan sabun pembersih boleh saja dilakukan. Namun kemudian harus dibilas bersih-bersih dengan air matang, dua atau tiga kali. Biar bagaimanapun, sabun pembersih
mengandung bahan kimia sintetis yang seharusnya tidak masuk ke dalam tubuh manusia.
* Bila mencuci dengan deterjen, hindari kontak langsung dengan kulit tangan, karena akan menimbulkan iritasi pada kulit. Lebih baik gunakan sarung tangan plastik.
* Pembersih lantai yang sering kita sebut karbol mengandung derivat fenol atau cresol yang sifatnya disinfektan dan juga senyawa klor yang menyebabkan korosit. Bayangkan bila zat yang bersifat korosit ini masuk ke tubuh si kecil yang kita sayangi. Bagaimana bisa?
Ketika habis mengepel dengan karbol, lantai memang tampak "kinclong" karena kotoran menghilang. Tapi tahukah bahwa zat-zat kimia pembersih lantai masih tetap menempel di lantai? Sementara itu, si kecil ingin bebas merangkak dengan jari-jari tangannya. Coba bayangkan bila kemudian si kecil memasukkan tangannya ke mulut? Oleh sebab itu, jangan ragu membilas kembali lantai yang sudah dipel dengan air bersih untuk menghilangkan karbol yang menempel. Repot sedikit, tapi aman buat si kecil. Pakai karbol sesuai takaran.
* Jangan mencampur deterjen dengan pemutih. Pemutih mengandung senyawa organoklor yang bila tercampur dengan deterjen yang bersifat asam, misalnya deterjen yang diberi lemon, akan menghasilkan gas yang disebut gas klor. Bila terhirup, akan menyebabkan efek seketika seperti tenggorokan sakit, iritasi saluran napas, batuk, dan sesak napas. Dampak jangka panjangnya, bisa menyebabkan kerusakan paru-paru yang kronis.
* Yang lebih penting, hindari sebisa mungkin kontak tubuh dengan bahan kimia beracun dan berbahaya. Tujuannya agar kadar zat tersebut pada diri kita tidak melampaui batas toleransi tubuh sehingga tidak menimbulkan risiko atau gangguan kesehatan.

MINIMALKAN RISIKO B3
B3 adalah kependekan dari istilah bahan berbahaya dan beracun. Digolongkan sebagai B3 jika sifat, konsentrasi, dan atau jumlah bahan tersebut, baik secara langsung maupun tidak dapat mencemarkan dan merusak lingkungan hidup, serta dapat membahayakan kesehatan manusia. Lebih terperinci lagi, suatu senyawa dikatakan sebagai B3 jika memiliki salah satu sifat seperti dapat terbakar, dapat meledak, bersifat korosif, menyebabkan iritasi, mengandung bahan radioaktif, terurai menjadi oksigen pada suhu tinggi, dan beracun atau toksik (karsinogenik, teratogenik, dan mutagenik).
Asal tahu saja, risiko B3 di sekitar kita bukan hanya terdapat pada deterjen dan pembersih lantai, tapi juga pembasmi serangga, rokok, radiasi, AC, dan masih banyak lagi, termasuk makanan serta air. Sayangnya, keracunan yang paling banyak disoroti biasanya yang bersifat jangka pendek. "Jarang sekali kita mempersoalkan dampak B3 yang mengancam manusia dalam jangka waktu panjang. Sebut saja kerusakan organ tubuh atau keracunan secara permanen setelah mengonsumsi makanan tertentu," kata Budiawan.
Sebagai contoh, jika seseorang mengonsumsi bahan B3 atau terpapar hanya sedikit, seringkali akibatnya tak terasa secara langsung. Kecuali bila yang terhirup adalah pestisida atau gas klor (campuran pemutih dengan bahan bersifat asam), mungkin yang bersangkutan akan langsung merasa sesak napas, mual dan sakit kepala. Padahal dalam jangka panjang, paparan asap atau uap bahan antinyamuk akan terakumulasi dalam tubuh dan menimbulkan kerusakan kronis yang bisa menyebabkan demam, anuria, koma, merangsang SSP (sistem saraf pusat), depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, bahkan kematian.
Oleh karena itulah, kita perlu meminimalkan risiko B3. Caranya antara lain:
* Jauhkan dari jangkauan anak-anak semua alat-alat dan pembersih rumah tangga yang mengandung B3, seperti pembersih, pestisida, alat listrik yang mengandung radiasi, dan lain-lain.
* Simpan bahan yang mengandung B3 di tempat sejuk dan jauh dari sinar matahari.
* Sirkulasi udara di rumah harus cukup.
* Pakai sarung tangan bila bekerja dengan bahan korosif.
* Bila terkena mata/kulit, segera bilas dengan air yang banyak.
* Lakukan pola hidup bersih dan tidak berlebihan.

Ini salah satu link yang lengkap juga tentang produk yang mengandung BPA dan tidak :
http://zrecs.blogspot.com/2007/11/z-report-bisphenol-in-baby-bottles-and.html

Sumber: asiuntukbayiku.multiply.com

Rabu, 11 Februari 2009

Memilih Kontrasepsi Saat Menyusui

PIL KONTRASEPSI

Pil KB kombinasi yang mengandung hormon estrogen dan progesteron tidaklah dianjurkan untuk ibu menyusui karena mengurangi produksi ASI. Bila Anda tak cocok dengan cara KB yang lain sedangkan Anda menyusui, lebih baik memilih pil KB yang hanya mengandung turunan hormon progesteron (mini pil). Sebuah studi menunjukkan mini pil ini tidak mempengaruhi ASI dibandingkan pil kombinasi. Efek kontrasepsi mini pil yang lebih lemah bisa dibantu dengan memberi ASI eksklusif. Dan bila ibu sudah berhenti menyusui, barulah menggantinya dengan pil kombinasi.

KB SUNTIK ATAU IMPLANT

Karena hanya mengandung hormon turunan progesteron, KB suntik pada prinsipnya sama dengan mini pil. KB suntik memiliki efek lebih panjang dan disuntikkan pada periode tertentu saja (satu bulan atau 2-3 bulan). Konon, saat penyuntikan dengan dosis tinggi, hormon yang masuk ke ASI akan meningkat, namun menurut studi hal ini tidak merugikan si bayi. KB implant merupakan jenis KB hormonal yang bersifat jangka panjang. KB dilakukan dengan memasukkan sejenis selongsong berisi hormon ke bawah kulit, dan akan diambil bila ibu menginginkannya atau setelah lima tahun.
Efeknya sama dengan KB suntik.
WHO menyarankan ibu yang menyusui eksklusif mulai memakai kontrasepsi berisi hormon turunan progesteron ini enam minggu setelah melahirkan.

AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)

Sampai saat ini, AKDR menjadi pilihan pertama untuk ibu yang masih menyusui namun belum ingin kontrasepsi mantap.Selain keluhan yang minimal, AKDR tidaklah berpengaruh pada ASI karena bekerja secara lokal di dalam rahim. Pemasangan AKDR tidaklah perlu menunda waktu, bisa dilakukan pada akhir nifas, biasanya saat satu bulan tujuh hari setelah ibu bersalin. Sebab, bila diberikan lebih awal, risiko AKDR untuk terlepas (ekspulsi) lebih besar.

METODE KONTRASEPSI LAIN

Mengkombinasi ASI eksklusif dengan metode KB sederhana seperti kondom, diafragma, atau senggama terputus. Kedua metode ini akan saling melengkapi selama proses menyusui dilakukan dengan benar. Ingatlah untuk mengganti metode KB bila ibu tak lagi menyusui secara eksklusif karena metode-metode ini memiliki efektifitas yang rendah. Pada ibu yang tak ingin punya anak lagi, kontrasepsi mantap yaitu dengan mengikat saluran rahim bisa dilakukan dalam 24 jam pertama setelah melahirkan. Kontrasepsi mantap juga bisa dilakukan pada pasangan dengan mengikat saluran sperma.


PILIHAN KB TERBAIK SAAT MENYUSUI

1.Bila sudah tak ingin punya anak lagi, lakukan kontrasepsi mantap.

2.AKDR

3.Suntik KB depoprovera

4.KB implant

5.Mini pil atau cara sederhana lain

6.Pil kombinasi adalah pilihan terakhir, digunakan bila ibu tak lagi menyusui atau anak sudah diberi makanan padat. Pilihlah yang kandungan estrogennya rendah.

Sabtu, 31 Januari 2009

ASIP is ASI with SUFOR Style

STOP!!!! JANGAN ADA YANG PROTES SEBELUM BACA LENGKAP POSTINGAN INI!!!!

Ini ada artikel postingan dari blognya dr.Agus CN yang rame karena menyesatkan buat para moms yang pro ASI sekaligus *sedikit penghiburan* buat para moms yang ga bisa kasi ASI.
Dikutip dari http://balitakami.wordpress.com/2008/10/19/10-pembenaran-tidak-memilih-asi/
Yah, kl sekarang blognya udah ganti jd draguscn.wordpress.com

PS: Warna yang ini, berarti kutipan dari artikel tersebut, warna yang ini, komentar saya mengenai tulisan tersebut. Ok, silakan baca terus...]

10 'pembenaran' tidak memilih ASI langsung, tapi metode ASIP

[Atau ASIP = ASI with SUFOR style]

Diterbitkan 19 Oktober 2008 air susu ibu , nutrisi , susu formula Tags: ASI, makanan bayi, menyusui

Bagaimanapun juga ada beberapa keadaan yang memaksa ibu untuk tidak memberikan ASI. Dan juga beberapa pembenaran yang biasanya disebutkan sebagai alasan tidak memberikan ASI kepada bayi. Ini benar, tapi jangan lupa, siapa tau maksudnya bayinya ga mau nyusu langsung dari PD. Masih ada harapan melalui ASI Perah tho... Susu formula bukan harus dihindari. Karena kelak pada usia diatas 6 bulan seorang anak tetap harus mendapatkan susu formula karena kebutuhannya tidak bisa lagi terpenuhi dengan hanya memberikan ASI. Sebisa mungkin ASI dilanjutkan sampai usia 2 tahun. Susu formula maupun UHT baik untuk dikonsumsi setelah lewat masa ASI. Bahkan orang dewasa pun tetap butuh susu untuk memenuhi kebutuhan kalsium...

1. Kepuasan yang lebih lama bagi bayi. Susu formula lebih sulit dicerna daripada ASI, dan endapan besar seperti karet yang dibentuknya akan tinggal lebih lama di lambung bayi, menimbulkan kenyang selama beberapa jam, dan memper­panjang waktu di antara waktu-waktu pemberian susu sampai tiga atau empat jam. Di sisi lain, karena ASI begitu mu­dah dan cepat dicerna, banyak bayi yang begitu sering disusui sehingga kadang-­kadang tampak seperti tidak pernah lepas dari payudara ibunya.

Kalau saya pribadi si, ga bilang kalo si bayi itu puas... Kembali lapar emang lebih lama aja, karena susu formula lebih sulit dicerna. Tapi tabungan ASIP-nya banyak si, ga masalah donk... Kalo kurang, ya tinggal nambah lagi mom...

2. Mudah memantau jumlah yang diminum bayi. Anda dapat tahu berapa banyak susu yang diminum oleh bayi dari botolnya. Sedangkan pada pemberian ASI, payudara ibu tidak dapat mengukur jumlah susu yang diminum bayi, sehing­ga ibu yang belum berpengalaman seringkali khawatir bahwa bayinya tidak cukup minum.

Kalau bayi minum ASIP, kita juga bisa tau koq berapa jumlah yang diminum bayi kita... Kalau udah tau kebiasaan bayi kita minumnya seberapa, pasti setiap kali merah, kita bisa targetin juga. Inget, demand and supply... Tapi kalau ga penuhi target ya jangan dibawa stress, ntar malah ga keluar deh..

3. Lebih bebas. Pemberian susu melalui botol tidak mengikat para ibu. Ingin makan malam di luar dan nonton bersama suami anda? Atau bahkan pergi berlibur di akhir pekan? Nenek dengan senang hati akan mau menjaga bayi dan mengambil alih kehormatan untuk mem­beri minum susu. Anda ingin berumur tiga bulan? Tidak perlu anda menyapih bayi dan memeras air susu keluar. Cukup me­ngatakan pada baby sitter™ dimana letak botol dan bubuk susunya, dan anda bisa pergi.

4. Ayah dan Kakak bayi dapat lebih berperan serta. Ayah dan kakak bayi dapat turut menikmati kesenangan dalam memberi makan bayi, bila bayi diberi susu botol, yang tidak me­mungkinkan pada ibu menyusui.

Pemberian ASIP juga tidak mengikat para ibu.. Tinggal menunjukkan pada suami, nenek, ataupun siapa aja yang jaga bayi kita untuk memanaskan stock ASIP di kulkas..

5. Lebih sedikit tuntutan kepada ibu. Seorang ibu yang sangat lelah karena per­salinan yang sulit, mungkin akan senang bila ia tidak usah bangun di tengah maam, bahkan pada dinihari, untuk memberi susu pada bayinya. Ayah, nenek, perawat bayi – atau siapapun yang bersedia –dapat mengambil alih tugas tersebut sampai si ibu telah lebih kuat. Juga lebih sedikit beban fisik pada ibu, jika ia tidak harus mem­produksi susu.

Persalinan memang kebanyakan melelahkan..(saya rasa ada juga koq yang persalinannya mudah2 aja n ibunya ga kelelahan) Yah, awal2 emang berjuang sedikit gpp tho.. Nanti kalau ASIP-nya udah ga kejar tayang, bisa juga koq agak santai sedikit.. Stock di kulkas banyak, tinggal minta bantuan mereka untuk menghangatkan n kasi ke bayinya. Kalo saya si, lebih senang saya yang kasi langsung si.. Tapi melibatkan suami, nenek, n siapa aja yang waktu itu lagi nemeni Cella juga gpp deh.. Biar dia menjalin sosialitas dengan orang2 sekitarnya juga..

6. Tidak mengganggu model baju. Seorang ibu yang memberi susu botol pada bayinya, dapat berpakaian sebagai­mana yang ia inginkan.

Kalau ASIP, bisa juga koq..

7. Lebih sedikit pembatasan dalam metoda keluarga berencana. Seorang ibu yang menyusui harus membatasi pilihan metoda KB dengan yang bukan hormon. Bila menggunakan susu formula metode KB bisa apa saja.
Metode KB kan juga bukan cuma satu tho... Pilihan untuk ibu menyusui juga ada beberapa koq.. Baca di postingan berikut ini ya..
8. Lebih sedikit tuntutan dan pem­batasan diet. Seorang ibu yang mem­berikan susu botol pada bayinya dapat berhenti makan untuk dua orang. Tidak seperti ibu yang menyusui, ia tidak perlu lagi mendapatkan tambahan protein, kalsium dan vitamin. Sete­lah 6 (enam) minggu pertama pascalahir ia dapat melakukan diet dengan ketat untuk menghilangkan kelebihan berat badannya karena hamil.

Wadoh, koq kesannya seperti balas dendam terhadap penambahan berat badan selama kehamilan ya.. Don't worry... Atur aja pola makan.. Pengalaman saya pribadi, anak saya minum ASIP, makan porsi normal yang penting gizi diperhatikan, dalam waktu 6 bulan, saya turun 20kg.. Biasanya kalau makan porsinya agak banyak, ya persering merah.. Biar bayi kita yang ikut menikmati hasil makan kita..

9. Tidak merasa tertekan bila memberi susu di depan umum. Sudah bisa dipastikan pasti ada sedikit kesulitan bagi ibu-ibu yang menyusui untuk memberikan ASI di tempat-tempat umum. Tidak demikian dengan bila menggunakan susu formula. Ibu yang menyusui dengan dot jarang diperhatikan orang.

Iya, heran juga ya kadang kita melihat mata para pria yang suka jelalatan.. Yah, terpaksa ibu-ibu yang nyusui langsung, kudu pinter2 memposisikan bayi n PD-nya biar ga kemana2 tho.. Yah, kalau pake ASIP, masalah ini terhindari juga si.. Yang penting isinya tetep ASI kan..

10. Tidak mengganggu kegiatan seks. Ehm .. Setelah 9 bulan bahkan mungkin kurang bila anda sangat khawatir dengan kondisi kehamilan, banyak ibu dan ayah yang menunggu saat-saat dimana mereka dapat kembali seperti keadaan sebelum hamil.

Kalau yang ini saya kita ga ada kaitannya sama ASI maupun Sufor deh.. Atur timing yang pas-nya aja deh..
Bagaimanapun juga pada saat anda memilih harus menyusui bayi anda dengan susu formula, lakukanlah dengan penuh cinta kasih. Paling tidak itu yang tidak boleh hilang dari kegiatan menyusui.
Saya setuju. Kalaupun KEADAAN MEMAKSA... yah, apa boleh buat tho.. Tapi jangan korbankan perasaan anak kita ya...

Selasa, 27 Januari 2009

Tips Pemberian ASIP Beku

ASI Perah merupakan alternatif pemberian ASI kepada bayi kita, saat kitakesulitan memberikannya secara langsung.

Zat yang penting yang terkandung dalam ASI adalah imun-nya, atau zat kekebalan atau lebih dikenal dengan antibodi. Terbukti bahwa zat-zat tersebutlah yangmembuat ASI dapat bertahan lebih lama dari pada Susu mamalia lain. Sehingga diudara terbuka saja ASI dapat bertahan 6-8 jam.

Sehingga sangat disayangkan apabila zat-zat tersebut hilang, karena proses yangkurang tepat, atau terlalu lama dibiarkan sehingga zat tersebut mati. tidak ASIyang diberikan secara langsung itu basi.. tetapi kalau ASI perah setelahtenggang waktu yang kita sama ketahui akan menjadikan zat-zat antibodi mati.

Sehingga akan lebih baik apabila, kita menaruh di freezer, tidak langsung dikeluarkan ke udara terbuka, tetapi setahap demi setahap, sehingga proses perubahan suhu tidak radikal, alias ujug-ujug... yang berakibat matinya sebagian antibodi tersebut.. jadi setelah di freezer, kita dapat menaruh di kulkas bagian untuk sayur, baru kemudian di udara terbuka, sampai setelah mencair, baru kita hangatkan dengan direndam di air hangat..

Sumber: Selasi Dot Net

Minggu, 18 Januari 2009

Happy ASIX-day

Hip Hip Hurray...

Hari ini Cella berhasil lulus ASIX melalui pemberian ASI Perah.
Fiuh.. Fiuh.. Sungguh penuh perjuangan untuk memerah pagi siang sore malam subuh..hehehe... Dari mulai yang dapetnya cuma beberapa tetes (kolostrum yang kaya gizi), trus mulai nambah jadi 30cc, 60cc, 100cc, 120cc, 150cc, n balik yang stabil 120-140cc per 3-4 jam sekali pemerahan.
Mulai yang dari ketergantungan ma pompa asi elektrik, sampe kepepet2 akhirnya belajar manual pake jari-jari... ( Baca full story-nya di pompa asi manual vs elektrik)
Lega berhasil ngebuktiin ke orang2 yang sempet mandang kasian ya bayinya ga mo nyusu langsung, walopun ASInya ASI perah, yang penting masih bisa lulus ASIX..
Rencananya bakalan lanjut terus ni. Semoga bisa lancar terus..
Hmmm.. Btw, dukungan dari suami, besar buanget peranannya..
Thanks to my hunny.. I luv u.
Buat para moms yang lagi berjuang, JANGAN MENYERAH ya...
Kalo perlu sumpel telinga dari omongan negatif orang2 yang ga pro ASI..





Kamis, 15 Januari 2009

Breastpump Electric vs Pompa Pake Tangan

Waktu kehamilan bulan ke-8, temen nyaranin masukin pompa asi ke list daftar barang keperluan melahirkan. Yah, pas survei, pompa elektrik lebih keliatan menarik daripada yang manual tho.. Aku pikir, wah, kl elektrik pasti lebih praktis, kerja lebih cepat n modern gitu loh... daripada kalo manual kan hehehe..

Awalnya pompa ASI elektrik pake baterai, tapi berhubung lama2 tiap hari ganti 2 baterai, akhirnya disambung ke adaptor. Belum lagi, kalo mati lampu... hiks.. Waktu itu belum bisa merah pake tangan, jadi terpaksa tunggu listrik nyala baru mompa lagi...

Kalo ditanya hasilnya... Yah, kesaksian moms yg di milis ASI sih, katanya banyakkan hasil merah dengan tangan daripada pompa. My self, ah.. sama aja tuh. Kadang malah lebih banyak dipompa.
Suka dukanya.. Pake pompa ASI, awalnya kaget juga si. Sedotannya kenceng banget. Yah, kebayang juga kan, sakit buanget.. sampe meringis2. Yah, tapi lama2 kebal juga si..
ON - 10 detik - OFF - 5 detik - ON lagi dst... Satu PD bisa 10-15 menit. Belum lagi, pengalaman ASI berdarah. Tapi karena teman seperjuangan pernah ngalamin yang sama n dia tanya DSAnya katanya gpp, ya udah, lanjut aja tetep dikasikan ke Cella.

Mulai belajar manual pake tangan itupun awalnya karena kepepet.. Entah kenapa, tu pompa kalo dipake di tempat kerja, selalu aja trouble. (Baca: Ngendet-ngendet gitu loh..) Belum lagi, ternyata repot juga bawa pompa, adaptor plus botol tambahan (Baca: Tas gw yang kecil itu jadi penuh deh) Jadi, ya udah deh, mulai belajar pake tangan.

Masa2 peralihan, satu PD pake pompa, n satu lagi pake tangan. Sebelum belajar pake tangan, mulai deh cari infonya banyak2 di internet.. Baru deh, nemu teknik Mermet.. Prakteknya, setelah 1 mingguan baru hasilnya bisa menyamai kl pake pompa..

Waktu awal2 itu, ASI muncrat kemana2. Sampe2 dimanapun merah, pasti ada bekasnya. Selain itu, dulu si pake mangkok dulu buat tadahinnya, baru dipindah ke botol penyimpanan. (Ga praktis juga kan..) Kalo sekarang, hihi... Bisa langsung diarahkan ke botol. Jadi ga ada yg terbuang percuma hehehe.. Lagian kl yang sekarang ini kendalanya kl merah pas kondisi lagi ngantuk, tu botol bisa kelepas dari tangan n malah tumpah deh.. (udah sempet kejadian beberapa kali..) Untung aja, cadangan masih ada beberapa botol (Ga jadi panik deh..)
Oh iya, sedikit tips.. Bener juga, kalo merah, usahakan badan agak nunduk, jadi PD mengarah ke bawah. Aliran ASI dibantu gaya gravitasi (Mungkin itu sebabnya susunya sapi keluarnya lebih banyak tho..) Plus, let down reflex emang ngaruh banget mempercepat penuhnya tu botol (alias memperlancar keluarnya ASI)

So, kesimpulan akhirnya... Enak juga si merah pake pompa. Tinggal tancepin listrik, duduk, bisa sambil nonton tv atau bahkan email2an hehehe.. Sometime, i miss it.. Sayang aja, kayanya pompa gw emang trouble deh. Kaya ga mau nyedot gitu loh..
Tapi mompa manual pake tangan, enaknya barang bawaan lebih praktis, tinggal bawa tampat penyimpanannya aja n ga perlu nyari2 colokan kabel.

Ok deh sharingnya... Mungkin kalau2 ada tambahan, posting yang ini bakalan di update lagi...
Semoga membantu buat yang lagi mikir2 mo beli pompa..

Rabu, 14 Januari 2009

ASI Perah on traveling

Ini beberapa tipsnya:

a. Perlengkapan perah (buat cheklist supaya nggak ada yang ketinggalan)
- botol untuk tempat merah
- kalau merahnya pakai tangan lebih praktis, atau siapin breast pump dan peralatannya
- sikat botol, sabut cuci, dan sabun cuci botol bayi
- kantung tempat menyimpan asi perah biar praktis (kalau aku pakai merk gerber)
- Kalau di hotel nggak tersedia baby bottle sterilizer pakai air panas mendidih(di hotel khan biasanya disediain electric kettle seperti itu khan)
- Cooler box/bag yg kapasitasnya sudah kita perhitungkan (misal kira-kira sehari kita merah 5 x 150 ml= 5 kantung asi kali 5 hari, dll)
- ice bag/blue ice

b. Frekuensi merah usahakan tetap sama misal kita tiap hari 5 kali yah usahakan sama

c. Minta hotel untuk simpan asip kita di freezer, ingetin di freezer sampai beku seperti es batu supaya mereka nggak salah simpen di lemari es bawah

d. pas mau balik ke tempat tujuan simpan dengan rapi di cooler bag/box dan ditaruh banyak blue ice disekeliling asip

e. usahakan hotel dan airport dekat supaya nggak terlalu lama di perjalanan ke airport dan usahakan supaya waktu menunggu di airport nggak terlalu lama supaya asip beku terjaga.

Sumber: Listi, milis asiforbaby

Selasa, 13 Januari 2009

Let Down Reflex

*The Let-Down Reflex*
Your Body's Response to the Baby's Suckling
Infant suckling stimulates the nerve endings in the nipple and areola, which signal the pituitary gland in the brain to release two hormones, prolactin and oxytocin.
- Prolactin causes your alveoli to take nutrients (proteins, sugars) from your blood supply and turn them into breast milk.
- Oxytocin causes the cells around the alveoli to contract and eject your milk down the milk ducts. This passing of the milk down the ducts is called the *"let-down"* (milk ejection) reflex.
Let-down is demonstrated in numerous ways including:
- Your infant begins to rapidly suck and swallow.
- Milk may drip from the opposite breast.
- The mother may feel a tingling or a full sensation (after the firstweek of nursing) in her breasts or uterine cramping.
- You may feel thirsty.
*NOTE*
There may be many let-downs during a feeding, of which you may or may not be aware. Because the brain plays such a large role in the release of hormones that cause the milk to eject, it is very normal for let-downs to occur inother situations as well. For instance, let-down may occur when you think about your baby, hear your or another baby cry, when it is your scheduled nursing time, when you are sexually stimulated, or during orgasm.
If the let-down occurs at an awkward time, cross your arms over your chest,or press the heel of your hand over the nipple area and apply pressure until the leaking stops. It may also help to wear cotton breast pads (withoutplastic liners) in your bra, especially in the first weeks, to protect your clothing. This type of response will usually diminish after the first fewweeks of nursing.
*Uterus Response Postpartum*
Release of the hormone Oxytocin while breastfeeding will cause the uterus to contract and this may be more noticeable if you have previously had children. It is this mechanism that helps your uterus to return to itspre-pregnant size quickly.
*Interference with Let-Down*
A variety of factors may interfere with let-down:
- Emotions: embarrassment, anger, irritation, fear or resentment
- Fatigue
- Inadequate sucking (Improper positioning or insufficient amount of timebaby is actively nursing.
- Stress
- Negative remarks from relatives or friends
- Fear of pain in your breasts or uterus (i.e., sore nipples or after birth pains)
- Breast engorgement in the first few days
*Suggestions for Creating a Supportive Nursing Environment*
- Find a peaceful atmosphere for nursing. Before beginning the feeding,unplug the phone, turn on relaxing music, and take four or five deepabdominal breaths.
- If breastfeeding in public inhibits you, insist on your privacy and/ordrape a light cover over your baby and your shoulder to cover up.
- Interact with friends and breastfeeding professionals who aresupportive of breastfeeding. Do not let well-meaning friends and relativeswho have different attitudes discourage you. Restrict visitors until you arecomfortable.
- Be around other nursing mothers. Attend a postpartum exercise class and/or postpartum support group.
- Be sure your baby is positioned properly and allow adequate suckling.
*Tingling Sensations - "Let-Down":*
After baby has nursed for a few minutes, many (but not all) womenfeel a tingling sensation followed by a strong surge of milk. Thisis known as the "let-down" response, and is natural and expected.This can happen with nursing, with just seeing a baby, hearing a babycry or even thinking about your baby. Often this let-down isaccompanied by a leakage of milk from one or both breasts.The hormone oxytocin is released into your blood, and as a result thetiny muscles surrounding the milk-storage cells of the breast pushthe fattier hind milk into the ducts - this is the let-down reflex orthe milk-ejection reflex.
General Expressing Tips
- Expressing milk is easier if you are relaxed
- try deep breathing exercises. Some women from Bach Rescue remedy helpful for calming them down if they are trying to express when stress.
- A routine also helps to relax the body in preparation
- This could be laying your pump out on a table, looking through a little photo album of baby pictures, making your self a cup of tea or anything else which you do which you could make into a ritual.
- Many women find it easier to express if baby is with them. If you can't express in the same room as your baby, then a looking at a photo may help, as may something which smells of baby or visualising yourself feeding your baby.
- Don't worry about the amount of milk you are producing
- babies are much more effective at removing milk from the breast, and worrying that you might not be expressing as much milk as you need releases adrenaline, which works against the oxytocin which the body needs to let down milk.
- It is important that you continue expressing until hind milk flows
-this is the richer, whiter milk which come after the thinner, more see through hind milk.
- Many women find that they can have multiple let downs in a session,so if you milk flow slows down it is worth continuing to see if you have a second let down.
- On the other hand, expressing for more than 20 minutes on one breastis not recommended as this could damage your breast.
- Stroking firmly but not too hard from the outside of the breastto the nipple, and working your fingers in little circles, spiraling from the outside of the breast to the nipple is a great way to prepare the breast for expressing, and can be down each time the milk flow slowsdown.
- You may be most successful at expressing while your baby feeds fromthe other breast
- this does take some dexterity, and possibly a helping hand from your partner
- Applying heat the breast may also help
- a warm rung out flannel ora shower can often start things going If you need to express regularly, then try to express at the same time and place. Your body will adaptto this quicker.
- Learning to express is about teaching your body to respond to an additional set of cues, so don't be surprised if your first expressing sessions aren't very productive. Try again another day, perhaps at a different time, and see what happens.
- Most mums find that they can express more milk in the morning, andless at night. The level of your supply does vary through the day andfrom day to day, so don't expect to always get the same amount.
- If you are trying to build up your supply, it is very helpful toexpress in the later evening. Even though you may be producing less milk,the level of hormones in your body mean that late eveningfeeds/expressing session are the best at 'demanding' a higher supply.
- Most experts say that it takes about 3 days of stimulation for thebody to fully catch up with demand, so if you add an expressingsessioninto your day, your baby may fit in an extra feed as well until yourbody realises what you want.
- Studies have shown that breast milk from hand expresion contains themore of the fatty hindmilk than breastmilk from pumping, and that Moremilk, and especially more hindmilk, is produced when milk is expressed from both breasts at the same time.
- If you are expressing from one breast at time, it is recommended that you express from one side until the milk flow slows down significantly, and then from the other side until that flow slows down,and then back to the first side etc.
Sumber : milist asiforbaby