Tampilkan postingan dengan label asi perah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asi perah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2009

ASIP is ASI with SUFOR Style

STOP!!!! JANGAN ADA YANG PROTES SEBELUM BACA LENGKAP POSTINGAN INI!!!!

Ini ada artikel postingan dari blognya dr.Agus CN yang rame karena menyesatkan buat para moms yang pro ASI sekaligus *sedikit penghiburan* buat para moms yang ga bisa kasi ASI.
Dikutip dari http://balitakami.wordpress.com/2008/10/19/10-pembenaran-tidak-memilih-asi/
Yah, kl sekarang blognya udah ganti jd draguscn.wordpress.com

PS: Warna yang ini, berarti kutipan dari artikel tersebut, warna yang ini, komentar saya mengenai tulisan tersebut. Ok, silakan baca terus...]

10 'pembenaran' tidak memilih ASI langsung, tapi metode ASIP

[Atau ASIP = ASI with SUFOR style]

Diterbitkan 19 Oktober 2008 air susu ibu , nutrisi , susu formula Tags: ASI, makanan bayi, menyusui

Bagaimanapun juga ada beberapa keadaan yang memaksa ibu untuk tidak memberikan ASI. Dan juga beberapa pembenaran yang biasanya disebutkan sebagai alasan tidak memberikan ASI kepada bayi. Ini benar, tapi jangan lupa, siapa tau maksudnya bayinya ga mau nyusu langsung dari PD. Masih ada harapan melalui ASI Perah tho... Susu formula bukan harus dihindari. Karena kelak pada usia diatas 6 bulan seorang anak tetap harus mendapatkan susu formula karena kebutuhannya tidak bisa lagi terpenuhi dengan hanya memberikan ASI. Sebisa mungkin ASI dilanjutkan sampai usia 2 tahun. Susu formula maupun UHT baik untuk dikonsumsi setelah lewat masa ASI. Bahkan orang dewasa pun tetap butuh susu untuk memenuhi kebutuhan kalsium...

1. Kepuasan yang lebih lama bagi bayi. Susu formula lebih sulit dicerna daripada ASI, dan endapan besar seperti karet yang dibentuknya akan tinggal lebih lama di lambung bayi, menimbulkan kenyang selama beberapa jam, dan memper­panjang waktu di antara waktu-waktu pemberian susu sampai tiga atau empat jam. Di sisi lain, karena ASI begitu mu­dah dan cepat dicerna, banyak bayi yang begitu sering disusui sehingga kadang-­kadang tampak seperti tidak pernah lepas dari payudara ibunya.

Kalau saya pribadi si, ga bilang kalo si bayi itu puas... Kembali lapar emang lebih lama aja, karena susu formula lebih sulit dicerna. Tapi tabungan ASIP-nya banyak si, ga masalah donk... Kalo kurang, ya tinggal nambah lagi mom...

2. Mudah memantau jumlah yang diminum bayi. Anda dapat tahu berapa banyak susu yang diminum oleh bayi dari botolnya. Sedangkan pada pemberian ASI, payudara ibu tidak dapat mengukur jumlah susu yang diminum bayi, sehing­ga ibu yang belum berpengalaman seringkali khawatir bahwa bayinya tidak cukup minum.

Kalau bayi minum ASIP, kita juga bisa tau koq berapa jumlah yang diminum bayi kita... Kalau udah tau kebiasaan bayi kita minumnya seberapa, pasti setiap kali merah, kita bisa targetin juga. Inget, demand and supply... Tapi kalau ga penuhi target ya jangan dibawa stress, ntar malah ga keluar deh..

3. Lebih bebas. Pemberian susu melalui botol tidak mengikat para ibu. Ingin makan malam di luar dan nonton bersama suami anda? Atau bahkan pergi berlibur di akhir pekan? Nenek dengan senang hati akan mau menjaga bayi dan mengambil alih kehormatan untuk mem­beri minum susu. Anda ingin berumur tiga bulan? Tidak perlu anda menyapih bayi dan memeras air susu keluar. Cukup me­ngatakan pada baby sitter™ dimana letak botol dan bubuk susunya, dan anda bisa pergi.

4. Ayah dan Kakak bayi dapat lebih berperan serta. Ayah dan kakak bayi dapat turut menikmati kesenangan dalam memberi makan bayi, bila bayi diberi susu botol, yang tidak me­mungkinkan pada ibu menyusui.

Pemberian ASIP juga tidak mengikat para ibu.. Tinggal menunjukkan pada suami, nenek, ataupun siapa aja yang jaga bayi kita untuk memanaskan stock ASIP di kulkas..

5. Lebih sedikit tuntutan kepada ibu. Seorang ibu yang sangat lelah karena per­salinan yang sulit, mungkin akan senang bila ia tidak usah bangun di tengah maam, bahkan pada dinihari, untuk memberi susu pada bayinya. Ayah, nenek, perawat bayi – atau siapapun yang bersedia –dapat mengambil alih tugas tersebut sampai si ibu telah lebih kuat. Juga lebih sedikit beban fisik pada ibu, jika ia tidak harus mem­produksi susu.

Persalinan memang kebanyakan melelahkan..(saya rasa ada juga koq yang persalinannya mudah2 aja n ibunya ga kelelahan) Yah, awal2 emang berjuang sedikit gpp tho.. Nanti kalau ASIP-nya udah ga kejar tayang, bisa juga koq agak santai sedikit.. Stock di kulkas banyak, tinggal minta bantuan mereka untuk menghangatkan n kasi ke bayinya. Kalo saya si, lebih senang saya yang kasi langsung si.. Tapi melibatkan suami, nenek, n siapa aja yang waktu itu lagi nemeni Cella juga gpp deh.. Biar dia menjalin sosialitas dengan orang2 sekitarnya juga..

6. Tidak mengganggu model baju. Seorang ibu yang memberi susu botol pada bayinya, dapat berpakaian sebagai­mana yang ia inginkan.

Kalau ASIP, bisa juga koq..

7. Lebih sedikit pembatasan dalam metoda keluarga berencana. Seorang ibu yang menyusui harus membatasi pilihan metoda KB dengan yang bukan hormon. Bila menggunakan susu formula metode KB bisa apa saja.
Metode KB kan juga bukan cuma satu tho... Pilihan untuk ibu menyusui juga ada beberapa koq.. Baca di postingan berikut ini ya..
8. Lebih sedikit tuntutan dan pem­batasan diet. Seorang ibu yang mem­berikan susu botol pada bayinya dapat berhenti makan untuk dua orang. Tidak seperti ibu yang menyusui, ia tidak perlu lagi mendapatkan tambahan protein, kalsium dan vitamin. Sete­lah 6 (enam) minggu pertama pascalahir ia dapat melakukan diet dengan ketat untuk menghilangkan kelebihan berat badannya karena hamil.

Wadoh, koq kesannya seperti balas dendam terhadap penambahan berat badan selama kehamilan ya.. Don't worry... Atur aja pola makan.. Pengalaman saya pribadi, anak saya minum ASIP, makan porsi normal yang penting gizi diperhatikan, dalam waktu 6 bulan, saya turun 20kg.. Biasanya kalau makan porsinya agak banyak, ya persering merah.. Biar bayi kita yang ikut menikmati hasil makan kita..

9. Tidak merasa tertekan bila memberi susu di depan umum. Sudah bisa dipastikan pasti ada sedikit kesulitan bagi ibu-ibu yang menyusui untuk memberikan ASI di tempat-tempat umum. Tidak demikian dengan bila menggunakan susu formula. Ibu yang menyusui dengan dot jarang diperhatikan orang.

Iya, heran juga ya kadang kita melihat mata para pria yang suka jelalatan.. Yah, terpaksa ibu-ibu yang nyusui langsung, kudu pinter2 memposisikan bayi n PD-nya biar ga kemana2 tho.. Yah, kalau pake ASIP, masalah ini terhindari juga si.. Yang penting isinya tetep ASI kan..

10. Tidak mengganggu kegiatan seks. Ehm .. Setelah 9 bulan bahkan mungkin kurang bila anda sangat khawatir dengan kondisi kehamilan, banyak ibu dan ayah yang menunggu saat-saat dimana mereka dapat kembali seperti keadaan sebelum hamil.

Kalau yang ini saya kita ga ada kaitannya sama ASI maupun Sufor deh.. Atur timing yang pas-nya aja deh..
Bagaimanapun juga pada saat anda memilih harus menyusui bayi anda dengan susu formula, lakukanlah dengan penuh cinta kasih. Paling tidak itu yang tidak boleh hilang dari kegiatan menyusui.
Saya setuju. Kalaupun KEADAAN MEMAKSA... yah, apa boleh buat tho.. Tapi jangan korbankan perasaan anak kita ya...

Rabu, 14 Januari 2009

ASI Perah on traveling

Ini beberapa tipsnya:

a. Perlengkapan perah (buat cheklist supaya nggak ada yang ketinggalan)
- botol untuk tempat merah
- kalau merahnya pakai tangan lebih praktis, atau siapin breast pump dan peralatannya
- sikat botol, sabut cuci, dan sabun cuci botol bayi
- kantung tempat menyimpan asi perah biar praktis (kalau aku pakai merk gerber)
- Kalau di hotel nggak tersedia baby bottle sterilizer pakai air panas mendidih(di hotel khan biasanya disediain electric kettle seperti itu khan)
- Cooler box/bag yg kapasitasnya sudah kita perhitungkan (misal kira-kira sehari kita merah 5 x 150 ml= 5 kantung asi kali 5 hari, dll)
- ice bag/blue ice

b. Frekuensi merah usahakan tetap sama misal kita tiap hari 5 kali yah usahakan sama

c. Minta hotel untuk simpan asip kita di freezer, ingetin di freezer sampai beku seperti es batu supaya mereka nggak salah simpen di lemari es bawah

d. pas mau balik ke tempat tujuan simpan dengan rapi di cooler bag/box dan ditaruh banyak blue ice disekeliling asip

e. usahakan hotel dan airport dekat supaya nggak terlalu lama di perjalanan ke airport dan usahakan supaya waktu menunggu di airport nggak terlalu lama supaya asip beku terjaga.

Sumber: Listi, milis asiforbaby

Senin, 29 Desember 2008

Warna, Rasa & Bau ASI

Kualitas fisik ASI yang normal
ASI secara fisikakan tampak terpisah menjadi 2 lapisan jika didiamkan selama beberapa lama. Lapisan atas yg biasanya lebih kental warnanya kaya akan lemak. Ini bukan berarti ASI telah basi. Kocoklah perlahan wadah berisi ASI peras tsb, hingga menjadi larutan homogen kembali.

Tampilan dari ASI berbeda2 tiap waktu sesuai krn kandungannya pun berbeda2 tiap saat. Termasuk juga kandungan lemak dan warna dari ASI.

  • Jumlah lemak dalam ASI akan fluktuatif dari hari ke hari. Bahkan saat ASI yg keluar di menit2 awal akan berbeda warna dan tampilannya.
  • ASI yang dikeluarkan saat pertama kali proses pemerahan / pemompaan akan terlihat "lebih encer" dari ASI yang dikeluarkan di menit-menit berikutnya. Karena itu disebut FOREMILK (karena kaya akan protein).
  • Sedangkan ASI yg keluar beberapa menit kemudian akan terlihat lebih kental. Atau disebut juga dg HINDMILK (kaya akan lemak).

Warna dari ASI tidak tergantung dari apa yg ibu konsumsi

  • Pewarna makanan dalam minuman soda, minuman buah-buahan dan hidangan penutup yang mengandung gelatin tidak membuat warna ASI menjadi pink atau oranye kemerahmudaan. ASI yang berwarna hijau tidak ada kaitannya dengan ibu yang mengkonsumsi minuman kesegaran yang berwarna hijau, rumput laut, atau sayuran berwarna hijau. Karena, dalam saluran cerna jenis makanan tadi akan diserap di usus halus dan masuk ke pembuluh darah dan sebagian masuk ke ASI, dalam proses tersebut warna sudah sangat berubah.
  • ASI yang berwarna pink mengindikasikan adanya darah dalam ASI. Hal ini dapat terjadi jika ibu mengalami dengan atau tanpa puting lecet. Jika puting ibu lecet dan berdarah, ibu dapat menghubungi klinik laktasi untuk mendapatkan saran penyembuhan. Darah dalam ASI tidak berbahaya bagi bayi, dan ibu dapat terus menyusui bayinya. Jika darah dalam ASI tidak juga membaik dalam waktu 2 minggu, segera konsultasikan dengan dokter.

Aroma atau rasanya yang NORMAL

  • Dalam keadaan baik ASI segar berbau dan beraroma manis.
  • ASI beku yang dicairkan kadang akan beraroma spt sabun dan terkadang bayi tidak mau meminumnya. Hal ini disebabkan perubahan struktur lemak dalam ASI akibat perubahan suhu yg mendadak. Sehingga proses kerja enzim lipase terganggu. Krn itu tidak disarankan memanaskan ASI peras/pompa pada suhu tinggi, ataupun setelah dipanaskan langsung dibekukan kembali.
  • Jika ASI peras berbau asam, pahit dan anyir maka bisa jadi ASI telah basi maka sebaiknya dibuang. Selama ASI peras/pompa disimpan sesuai dengan rekomendasi penyimpanan yang baik dan benar maka ASI biasanya tidak akan basi.
  • Bila ASI beku ataupun ASI yang disimpan di refrigerator selama beberapa waktu, berbau atau terasa seperti sabun, asam atau tengik, kadang bisa karena kandungan enzim lipase di ASI dalam jumlah berlebih. Sehingga lemak dalam ASI akan dipecah oleh enzim tersebut sesaat setelah ASI diperah. Umumnya bayi tidak mempermasalahkan dengan sedikit perubahan bau dan rasa itu, dan tidak berbahaya bagi sang bayi.
  • TETAPI jika perubahan bau dan rasa terasa sekali, maka bayi akan menolaknya, dalam keadaan seperti ini sebaiknya ASI jangan diberikan lagi, dan evaluasi cara dan kondisi penyimpanan apakah sudah baik dan benar.
  • Bila ensim lipase saya berlebih atau ASI mulai terasa dan berbau asam atau tengik dapat dicegah dengan cara setelah diperas sebelum disimpan dapat dipanaskan (hingga hampir mendidih) agar lipase berhenti bekerja (inactivated) sehingga proses pemecahan lemak terhenti.

Cara Memanaskan ASI

  • RENDAM ASI DALAM AIR PANAS DALAM BEBERAPA SAAT hingga ASI terasa hangat
  • BILA ASI ASAM : Panaskan ASI pada suhu 180 F (82 C), atau hingga tampak sedikit gelembung di pinggir panci, JANGAN sampai mendidih secara keseluruhan. Segera dinginkan dan simpan ASI.
  • Pemanasan ini akan merusak kandungan zat anti bodi atau zat kekebalan
  • Bile salt-stimulated lipase (BSSL) dalam ASI dapat juga dirusak pada pemanasan suhu 62.5 C selama 1 menit atau pada 72 C selama lebih dari 15 detik.

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Melihat situasi dan kondisi bayi

Bayi sering menangis
Menangis merupakan cara bayi berkomunikasi sehingga apabila bayi menangis terlalu lama karena ia akan menjadi lelah sehingga kemampuan menghisapnya berkurang. Selain itu ibu juga menjadi kesal sehingga dapat mengganggu proses laktasi. Bayi menangis belum tentu karena lapar atau haus, bisa saja ia takut, kesepian, bosan, basah, kotor atau sakit atau ada rasa yang tidak enak pada ASI yang disebabkan oleh makanan ibu atau obat yang diminum ibu. Yang tidak dapat diterangkan oleh sebab di atas adalah yang kita sebut kolik. Bayi akan menangis terus menerus pada waktu-waktu tertentu dan dapat diusahakan dengan menggendongnya dan perutnya. Tidak ada gangguan pertumbuhan pada bayi dengan kolik biasanya akan hilang sendiri setelah 3 bulan.

Bayi kembar
Sebagian ibu menganggap apabila ia melahirkan bayi kembar maka pasti ASInya tidak dapat memenuhi kebutuhan kedua bayinya. Ibu sudah akan memberikan tambahan kepada kedua bayinya tanpa mencoba dahulu. Hal ini tidak benar. Produksi ASI sesuai dengan rangsangan yang diberikan sehingga dua bayi akan merangsang lebih sering/banyak sehingga produksi ASI jugalebih banyak. Setiap bayi harus disusukan pada payudara secara bergantian. Alasannya adalah agar memberikan variasi pada bayi (tidak menetap pada satu sisi terus menerus), juga oleh karena kemampuan menghisap masing-masing bayi berbeda, sehingga rangsangan pada kedua puting sama. Menyusukan kedua bayi dapat bersama-sama atau bergantian. Kalau menyusui bergantian sebaiknya dimulai dengan yang lebih kecil dahulu.

Bayi prematur atau Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI dikeluarkan dengan pompa atau diperah dan diberikan pada bayi dengan sonde lambung atau pipet. Dengan memegang kepala dan menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih untuk menghisap sementara ASI yang telah dikeluarkan yang diberikan dengan pipet atau selang kecil yang menempel pada puting.

  • Bayi dengan berat lahir di atas 1800 gram dengan masa kelahiran >34 minggu dapat langsung diajarkan menyusu dari ibu.
  • Bayi dengan berat lahir antara 1500-1800 gram dengan masa kehamilan 32-34 minggu dapat dicoba menyusu tetapi kebutuhannya perlu ditambahkan secara pemberian dengan cangkir/sendok.
  • Bayi dengan berat lahir antara 1250-1500 gram dengan masa kehamilan 30-32 minggu perlu diberi makanan melalui pipa nasogastril.
    Bayi dengan berat lahir <1250>

Bayi sumbing
Bila celah hanya terdapat pada bibir atau langit-langit saja biasanya dengan posisi tertentubayi dapat disusukan. Cara menyusu yang dianjurkan adalah:

  • Posisi bayi duduk
  • Ibu jari dapat dipakai sebagai penyumbat celah bibir bayi.

Namun bila celahnya luas dan meliputi bibir, gusi dan langit-langit keras perlu dibuatkan protese yang akan menutup celah itu supaya bayi bisa minum tanpa tersedak. Bayi diberikan ASI perah dengan pipet, cangkir atau sendok dalam posisi agak tegak.

Bayi dengan frenulum pendek
Pada keadaan seperti ini jaringan ikat antara lidah dan dasar mulut (frenulum) pendek dan tebal serta kaku sehingga membatasi derak lidah. Dengan demikian bayi akan sukar melaksanakan proses menyusu dengan baik karena lidah tidak dapat dijulurkan untuk menangkap areola mama. Pada beberapa keadaan frenulum perlu digunting, suatu operasi kecil yang tidak memerlukan narkose. Perdarahan sangat kecil dan luka lekas sembuh.

Bayi kuning
Terdapat dua situasi pada ikterus yang dihubungkan dengan pemberian ASI. Yang sering terjadi adalah ikterus yang timbul dini dan disebabkan oleh karena ASI pada hari-hari pertama masih sedikit dan pengeluaran feses sedikit sehingga meningkatkan sirkulasi enterohepatik. Menyusui dini sangat penting agar bayi mendapat kolostrum yang sifatnya adalah purgatif. Ibu disuruh menyusui lebih sering sehingga ASI lebih banyak dan pengeluaran feses lebih lancar.
Yang agak jarang adalah ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama. Ikterus ini disebabkan oleh karena ada zat yang terdapat pada sebagian ibu yang menghambat fungsi enzim glukoronide transferase. Walupun belum pernah dilaporkan sebagai penyebab kernikterus sebaiknya bila bilirubin mencapai kadar yang mengkhawatirkan, bayi dirawat untuk mendapat terapi sinar dan untuk sementara pemberian ASI dihentikan. ASI tetap dikeluarkan agar tidak terhenti produksi, oleh karena oemberian ASI harus dilanjutkan kembali setelah kadar bilirubin menurun (biasanya paling lama 2×24 jam) sambil dilakukan pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan ikterus yang lain.

Bayi dengan diare
Perlu diketahui bahwa pola defekasi pada bayi yang mendapat kolostrum adalah sering dan cair, sehingga perlu dibedakan dengan diare. Apabila bayi benar mengalami diare maka tidak ada alasan sama sekali untuk menghentikan ASI, justru ASI mempunyai manfaat manfaat untuk diare:

  • ASI dapat digunakan untuk rehidrasi.
  • ASI mengandung zat gizi untuk memenuhi kecukupan gizi selama diare.
  • ASI mengandung zat kekebalan terhadap kuman penyebab diare.
  • ASI mengandung zat untuk pertumbuhan sel mukosa usus yang rusak oleh diare.
  • Diare lebih ringan dan lama diare lebih pendek pada bayi yang mendapat ASI.

Bayi yang memerlukan perawatan
Bila bayi sakit dan memerlukan perawatan padahal bayi masih menyusu pada ibu, sebaiknya bila ada fasilitas ibu ikut dirawat agar pemberian ASI tetap dapat dilanjutkan. Seandainya hal ini tidak memungkinkan maka ibu dianjurkan memerah ASI setiap 3 jam dan disimpan di dalam lemari es untuk kemudian sehari sekali diantar ke rumah sakit di dalam termos es. Perlu diberikan tanda pada botol penampung ASI, jam berapa ASI diperah agar yang lebih dahulu diperah dapat diberikan terlebih dahulu.

oleh : Rulina Suradi

Sumber : dr-anak.com

Minggu, 28 Desember 2008

Alat Tempur Untuk ASI Perah

ASI adalah yang terbaik untuk bayi. Namun kadangkala ibu dan bayi terpisah karena pekerjaan atau sakit. Maka pemberian ASI perahan adalah solusi agar bayi tetap mendapatkan asupan dengan maksimal. Peralatan apa saja yang perlu dipersiapkan untuk memerah ASI?
1. Pompa ASI
Teknik memerah dengan tangan paling dianjurkan, sebab selain mudah, murah, juga tak merepotkan. Modalnya cuma satu, keterampilan ibu memerah ASI dengan tepat. Meski demikian, ternyata banyak pula ibu-ibu yang lebih nyaman memerah dengan menggunakan pompa ASI. Jangan sembarang memilih pompa ASI. Harga murah dan model menarik tidaklah cukup. Ada kriteria lain yang harus diperhatikan. Pompa ASI sebaiknya memiliki kecepatan dan kekuatan mengisap yang bisa diatur. Pompa juga sebaiknya bisa bekerja dengan efektif, sehingga merangsang payudara untuk memproduksi ASI lebih banyak. Di pasaran tersedia beberapa jenis pompa ASI. Berikut kelebihan dan kekurangan masing-masing:

Pompa dengan karet penyedot
Alat jenis ini tidak dianjurkan sebab kurang efisien dan tidak sesuai untuk memerah ASI. Bahan karet yang terdapat di bagian belakang pompa yang berbentuk seperti bohlam sulit dibersihkan dan tak bisa disterilkan. Sehingga ASI yang tersisa di bagian tersebut bisa menjadi media yang menyalurkan mikroba. Pompa ASI jenis ini hanya dianjurkan untuk mengatasi pembengkakan payudara.
Pompa elektrik dan bentuk piston
Pompa ASI elektrik dan yang berbentuk piston memenuhi standar untuk memerah ASI, tapi harganya terbilang mahal. Pompa jenis ini memiliki model manual dan elektrik. Pastikan wadah dan katupnya steril ketika dipakai.


Pompa ASI ganda
Pompa ASI ini memiliki dua kanal sehingga dapat memompa kedua payudara sekaligus dalam satu waktu

Pompa ASI dengan botol susu
Desain ini tentu praktis untuk kegiatan memerah ASI karena ASI yang diperah langsung disalurkan ke dalam botol susu

2. Wadah ASI
Sebenarnya, untuk menyimpan ASI perah tidak perlu menggunakan wadah yang benar-benar khusus. Prinsipnya, yang penting wadah tersebut terbuat dari bahan non-toksik, bisa ditutup rapat, dan tahan panas (karena anda perlu mensterilkannya). Menurut Lalecheleague (sebuah organisasi laktasi internasional), tempat/wadah ASI yang direcomendasikan adalah :
  • botol beling/kaca/gelas
  • botol plastik keruh (polypropilene atau pp)
  • botol plastik bening (polycarbonate atau pc)

Botol gelas/kaca

dinilai sebagai wadah yang paling baik. Selain tahan terhadap panas, juga karena lebih mudah membersihkan lemak ASI dari permukaan gelas/kaca. Lemak ASI cenderung lebih ’menempel’ pada permukaan plastik. Lalu, botol gelas seperti apa yang baik? Paling aman sih yang bening atau tidak berwarna, seperti botol salah satu minuman bervitamin C atau botol selai.

Botol plastik sebagai wadah ASI sebaiknya pilih yang berbahan pp (polypropilene) atau pc (polycarbonate), jangan yang terbuat dari jenis pe (polyethilene). Pilihlah yang tidak berwarna karena bahan plastik yang berwarna dikhawatirkan warnanya bisa luntur ketika botol dipanaskan. Botol-botol pp dan pc ini tidak sulit dicari, karena perlengkapan makan dan minum (botol, gelas, mangkuk, dll) khusus untuk bayi dan anak, biasanya dibuat dari pp atau pc. Secara fisik perbedaan pp dengan pc adalah dari tingkat kekeruhannya, plastik pp lebih keruh dari pc. Sedangkan contoh plastik pe, antara lain; kantong plastik biasa dan kemasan air mineral.
Botol susu sebagai wadah ASI harus memiliki penutup. Tutup ini dipasang ketika dot/rubber nipple tidak digunakan.
Kantong plastik biasa sangat tidak direkomendasikan sebagai wadah ASI, karena tipis sehingga mudah bocor dan mudah menyerap aroma/bau dari lingkungan sekitarnya. Di pasaran banyak dijual berbagai merk kantong khusus ASI. Biasanya, kantong ASI ini untuk sekali pakai. Harganya memang lumayan mahal, karena umumnya masih diimpor. Atau, Anda juga dapat menggunakan kantong plastik makanan dengan label ”food grade.”

3. Tas ASI
Untuk yang satu ini, anda dapat menggunakan tas khusus ASI, tersedia berbagai merk di pasaran, atau coolbox atau kontainer plastik- dengan pegangan- yang biasa. Satu hal yang perlu anda ingat ketika hendak membeli tas ASI ataupun tas jenis lain (coolbox/kontainer plastik), pastikan tas tersebut cukup besar untuk menyimpan pompa sekaligus beberapa wadah atau botol penyimpan ASI perah.

4. Blue Ice
Ada satu benda yang harus ada dalam tas untuk menyimpan ASI ini, yakni bahan pendingin. Anda dapat menggunakan blue ice atau es batu biasa yang mudah dibeli dari warung-warung. Namun lebih disarankan untuk menggunakan blue ice, karena efek dinginnya lebih tahan lama. Blue ice adalah semacam jel yang terbungkus plastik anti bocor. Sebelum digunakan, harus didinginkan lebih dulu dalam freezer selama beberapa jam (tergantung instruksi pada kemasan). Kalau anda membeli tas khusus ASI, biasanya sudah termasuk dengan blue ice (bahan pendingin). Tetapi blue ice ini juga dapat dibeli secara terpisah.

5. Breastpad
Gunanya untuk menyerap ASI yang merembes/keluar dari puting. Buat ibu bekerja, benda ini perlu dimiliki. Apalagi selama masa ASI eksklusif. Di pasaran tersedia berbagai merk disposable breastpads. Untuk menyiasatinya biayanya yang mahal, pakailah breastpads sekali pakai ketika di kantor atau kalau sedang bepergian. Di rumah, gunakan breastpads jenis cuci ulang. Atau, anda juga bisa memanfaatkan popok kain atau saputangan yang dilipat sebagai breastpads selama di rumah

Sumber: ibudananakdotcom.wordpress.com, aimi-asi.org, http://www.tabloid-nakita.com/


Minggu, 07 Desember 2008

Pompa ASI

Jika anda ingin mengumpulkan air susu anda untuk suplemen bayi anda, sebaiknya pelajari dulu cara memerasnya. Memeras air susu dapat dilakukan dengan tangan (secara manual) atau dengan memompa (secara mekanis). Waktu terbaik untuk melakukannya adalah pada saat payudara sedang penuh sementara anda tidak bisa menyusui, atau bayi sudah kenyang sedangkan air susu dalam payudara belum habis. Mulai memeras dari payudara tempat menyusu terakhir.

Sebagai persiapan untuk memeras air susu, baik secara manual maupun mekanis, pertama-tama cuci bersih kedua tangan anda dan pastikan semua wadah dan peralatan (botol, cangkir, pompa, dll) yang akan digunakan dalam keadaan steril. Untuk membersihkan dan mensterilkan pompa, ikutilah petunjuk dari pabrik yang biasanya tertera pada brosur penyerta produk. Anda sebaiknya dalam posisi santai dan nyaman. Ada sebagian wanita yang minum, mendengarkan musik, memikirkan sang bayi, atau mengamati foto bayinya sebelum memeras dengan maksud membantu melancarkan aliran air susunya.

Bila anda memakai pompa untuk mengeluarkan air susu, perhatikan dengan cermat instruksi penggunaan terlampir. Pompa tersebut harus dibersihkan sebelum dan sesudah digunakan, atau disterilkan sesuai instruksi. Memeras secara mekanis perlu waktu 20 menit. Basahi bagian dalam ketopong (bagian yang ditempelkan ke payudara) dengan air hangat. Pasanglah ketopong ke payudara anda dengan benar sehingga puting keluar dari lobang di bagian tengah. Agar lebih mudah, doyongkan tubuh ke depan sehingga payudara menempel erat dengan ketopong.

Dorong lalu tarik kembali silinder pompa sampai air susu mengalir. Memijat payudara sambil memompa akan lebih melancarkan aliran air susu. Pada saat aliran mengecil menjadi tetesan, lepaskan ketopong secara hati-hati lalu bersihkan payudara dengan kain kering. Pindahkanlah pompa ke payudara kedua mengikuti prosedur yang sama. Sama seperti memeras secara manual, mungkin anda perlu melakukan dari payudara pertama ke payudara kedua berulang-ulang sampai selesai.

Selesai memompa, simpanlah air susu dalam wadah bersih (sebaiknya yang steril) di lemari es atau freezer. Berilah tanggal pemerasan pada wadah. Ikuti petunjuk pabrik tentang cara membersihkan dan menyimpan pompa setelah digunakan.

Sebagian wanita menyewa pompa listrik dari pemasok alat kesehatan, rumah sakit, atau klinik bersalin. Alat ini lebih efisien karena memompa kedua payudara sekaligus, tetapi lebih mahal dan tidak mudah dibawa kemana-mana seperti pompa tipe silinder.

Sabtu, 01 November 2008

Teknik Memerah ASI

TEKNIK MARMET
Bertahun-tahun lamanya para ibu telah menggunakan cara memeras ASI dg teknik Marmet yg mengutamakan let-down refleks. Bahkan banyak ibu menyusui yg menyatakan bahwa dg teknik marmet ini produksi ASInya meningkat. Ibu menyusui yg sebelumnya memerah ASI ataupun yg belum pernah memerah ASI akan mendapatkan hasil sempurna dg teknik ini.

PENTINGNYA TEKNIK MEMERAH YANG TEPAT
Jika kita perhatikan cara memerah ASI dg tangan tampaknya sulit dari yg dibayangkan. Dalam hal ini, tangan harus lebih cepat dari mata. Sehingga banyak ibu yg merasa bahwa memerah ASI dg tangan sangat sulit. Meskipun ia telah belajar dari bacaan atau pun praktek langsung. Memang, ASI dapat diperah dg mudah tanpat teknik apapun. Namun satu hal yg sering terlupakan adalah teknik yg tidak tepat akan merusak jaringan lemak pada payudara, membuat payudara menjadi lecet. Bahkan kulit payudara bisa menjadi memar atau memerah.

Memerah ASI dg teknik Marmet awalnya diciptakan oleh seorang ibu yg harus mengeluarkan ASInya karena alasan medis. Awalnya ia kesulitan mengeluarkan ASI dg refleks yg tidak sesuai dg refleks keluarnya ASI saat bayi menyusu. Hingga akhirnya ia menemukan satu metode memijat dan menstimulasi agar refleks keluarnya ASI optimal. Kunci sukses dari teknik ini adalah kombinasi dari cara memerah ASI dan cara memijat.

Jika teknik ini dilakukan dg efektif dan tepat, maka seharusnya tidak akan terjadi masalah dalam produksi ASI ataupun cara mengeluarkan ASI. Teknik in dapat dg mudah dipelajari sesuai instruksi. Tentu saja semakin sering ibu melatih memerah dg teknik marmet ini, maka ibu makin terbiasa dan tidak akan menemui kendala.

KEUNGGULAN MEMERAH ASI
Banyak sekali keuntungan memerah ASI dg teknik marmet. Diantaranya :

  • Banyak ibu telah membuktikan bahwa memerah ASI dg tangan jauh lebih nyaman dan alami (saat mengeluarkan ASI).
  • Refleks keluarnya ASI lebih mudah terstimulasi dg Skin to skin contact (dg cara memerah tangan)
  • Jelas nyaman digunakan
  • Aman dari segi lingkungan
  • Portable (mudah dibawa kemana-mana). Tidak mungkin kan ibu lupa membawa tangannya ?
  • Dan yg paling mengasyikkan : GRATIS

MEMERAH ASI

Mengeluarkan ASI dari Gudang ASI hingga tuntas

1. LETAKKAN ibu jari dan dua jari lainnya
(telunjuk & jari tengah) sekitar 1 cm hingga 1,5 cm dari areola

  • Usahakan utk mengikuti aturan tsb sbg panduan. Apalagi ukuran dari areola tiap wanita bervariasi.
  • Tempatkan ibu jari diatas areola pada posisi jam 12 dan jari lainnya di posisi jam 6.
  • Perhatikan bahwa jari-jari tsb terletak diatas gudang ASI. Sehingga proses pengeluaran ASI optimal.
  • Hindari melingkari jari pada areola spt gambar ini. Posisi jari seharusnya TIDAK berada di jam 12 dan jam 4.

2. DORONG ke arah dadaHindari meregangkan jari.Bagi yg berpayudara besar, angkat dan dorong ke arah dada.

3. GULUNG menggunakan ibu jari dan jari lainnya secara bersamaan
Gerakkan ibu jari dan jari lainnya hingga menekan gudang ASI hingga kosong. Jika dilakukan dg tepat, maka ibu tidak akan kesakitan saat memerah.

Catatan : Perhatikan posisi dari ibu jari dan jari-jari lainnya pada gamabr dg baik. Arah panah menunjukkan arah tekanan jari saat melakukan gerakan. Perhatikan posisi jari berubah pada tiap gerakan mulai dari posisi Push (jari terletak jauh di belakang areola) hingga posisi Roll (jari terletak di sekitar areola).

4. ULANGI SECARA TERATUR (RYTHMICALLY) hingga gudang ASI kosong.
Posisikan jari secara tepat, push (dorong), roll (gulung); posisikan jari secara tepat, push (dorong), roll (gulung).

5. PUTAR ibu jari dan jari-jari lainnya ke titik gudang ASI lainnya. Demikian juga saat memerah payudara lainnya, gunakan kedua tangan. Misalkan, saat memerah payudara kiri, gunakan tangan kiri. Juga saat memerah payudara kanan, gunakan tangan kanan. Saat memerah ASI, jari-jari berputar seiring jarum jam ataupun berlawanan agar semua gudang ASI kosong. Pindahkan ibu jari dan jari lainnya pada posisi jam 6 & jam 12, kemudian posisi jam 11 & jam 5, kemudian jam 2 & jam 8, kemudian jam 3 & jam 9.
Gambar berikut menunjukkan posisi tangan pada payudara kanan.

HINDARI GERAKAN BERIKUT
Hindari menekan / memencet payudara. Hal ini dapat melukai payudara.Hindari menarik-narik puting payudara. Hal ini dapat merusak lapisan lemak pada areola.Hindari menekan dan mendorong (sliding on) payudara. Hal ini dapat menyebabkan kulit pada payudara memar atau memerah.AGAR ASI MUDAH DIKELUARKAN

Hal-hal dibawah ini dapat membantu merangsang (stimulasi) refleks keluarnya ASI.

  • MASSAGE. PIJATLAH sel-sel produksi ASI dan saluran ASI.
    Mulai dari bagian atas payudara. Dg gerakan memutar, pijat dg menekan ke arah dada.
  • STROKE. TEKANLAH daerah payudara dari bagian atas hingga sekitar puting dg tekanan lembut dg jari spt menggelitiki.
  • SHAKE. GUNCANGLAH payudara dg arah memutar. Gerakan gravitas akan membantu keluarnya ASI.

PROSEDUR
Prosedur berikut diutamakan bagi para ibu yg memberikan ASI eksklusif dan bagi mereka yg ingin meningkatkan produksi ASI juga menjaga agar produksi ASI optimal.

  • Perahlah kedua payudara hingga ASI kosong dari gudang payudara (ditandai dg aliran ASI yg menurun).
  • Lakukan prosedur stimulasi refleks keluarnya ASI agar ASI mudah dikeluarkan (massage, stroke, shake) pada kedua payudara. Prosedur tsb dapat dilakukan kapanpun.
  • Ulangi seluruh proses memerah ASI pada tiap payudara dan teknik stimuasi refleks keluarnya ASI sekali atau dua kali. Aliran ASI biasanya menurun pada kali kedua atau ketiga. Ini artinya gudang ASI mengering.

WAKTU
Keseluruhan prosedur ini umumnya membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit.

  • Perahlah tiap payudara selama 5-7 menit.
  • Pijat (Massage), stroke, guncang (shake).
  • Perahlah lagi tiap payudara selama 3-5 menit.
  • Pijat (Massage), stroke, guncang (shake).
  • Perahlah lagi tiap payudara selama 2-3 menit.

Catatan :

  • Jika supply ASI terjaga, gunakan waktu semaksimal mungkin. Waktu tsb diatas hanya sbg patokan saja. Perhatikan aliran ASI dan ganti payudara lainnya jika aliran ASI pd payudara tsb sudah mulai menurun.
  • Jika ASI tidak keluar atau hanya sedikit ASI yg keluar, ikuti petunjuk diatas dg periode waktu lebih singkat dan sering.


Sumber : http://www.lactationinstitute.org/MANUALEX.html

Diterjemahkan bebas dari artikel “MARMET TECHNIQUE” oleh Luluk Lely Soraya I, March 2006

Kamis, 30 Oktober 2008

ASI Perah

Dr. Utami Roesli SpA, MBA.IBCLC, pakar ASI, meyakinkan bahwa setelah masa cuti berakhir, ibu masih bisa memberikan ASI eksklusif. “Rugi sekali jika ibu hentikan. Sebab, usus bayi usia 3 bulan belum siap mencerna makanan selain air susu ibu. Selain itu. ASI merupakan sumber gizi ideal dengan komposisi seimbang, yang jika diberikan secara eksklusif bayi akan lebih sehat dan lebih cerdas dibanding bayi yang tidak mendapatkannya,” tegas Utami.

Untuk buah hati tercinta, seharusnya bekerja di luar rumah bukanlah halangan untuk memberikan yang terbaik untuknya, termasuk memberikan ASI secara eksklusif. “Ibu tetap bisa memberikan ASI perah, yakni ASI yang diperas dari payudara, lalu diberikan pada bayi saat ibu bekerja di kantor,” ujar Utami yang juga ketua Lembaga Peningkatan dan Pengembangan (LPP) ASI Rumah Sakit St. Carolus.

ASI perah adalah ASI yang diambil dengan cara diperas dari payudara untuk kemudian disimpan dan nantinya diberikan pada bayi. Apa tidak basi? Menurut Utami, sampai waktu tertentu dan dengan penyimpanan yang benar, ASI tidak akan basi. Misalnya, ASI tahan disimpan di dalam suhu ruangan sampai 6 jam. Jika disimpan di thermos yang diberi es batu, bisa tahan hingga 24 jam. Bahkan, kalau disimpan di kulkas ketahanannya meningkat hingga 2 minggu dengan suhu kulkas yang bervariasi. Jika disimpan di frezeer yang tidak terpisah dari kulkas, dan sering dibuka, ASI tahan 3-4 bulan. Sedangkan pada freezer dengan pintu terpisah dari kulkas dan suhu bisa dijaga dengan konstan, maka ketahanan ASI mencapai 6 bulan.

Memerah ASI bukanlah hal yang sulit, bahkan tidak selalu membutuhkan alat khusus atau pompa ASI. Cukup dengan pijitan dua jari sendiri, ASI bisa keluar lancar car! Memang membutuhkan waktu, yakni masing-masing payudara 15 menit. ASI ini bisa diberikan untuk bayi keesokan harinya. Tampung ASI tersebut di sebuah wadah, misalnya plastik gula, lalu tandai setiap wadah dengan spidol sesuai waktu pemerahan, misal plastik pertama, kedua, dst. Berikan pada bayi sesuai urutan pemerahan.