Minggu, 21 Desember 2008

Penyebab Kegagalan ASI Ekslusif

Kurangnya Dukungan Dan Tidak Dipatuhinya Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI
JAKARTA, 12 Juli 2007 – Kurangnya dukungan bagi ibu menyusui serta tidak dipatuhinya ketentuan dalam Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti Air Susu Ibu (ASI) atau lebih dikenal dengan istilah susu formula merupakan penyebab utama kegagalan pemberian ASI ekslusif kepada bayi. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan.

Dukungan terhadap praktek pemberian ASI eksklusif.

Kurangnya dukungan dan ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut terungkap dari survei yang dilakukan Milis Sehat dalam rangka menyambut Pekan ASI Sedunia bulan Agustus. Survei ini melibatkan 385 anggota milis Sehat yang berasal dari berbagai kota di Indonesia dan luar negeri serta anggota milis lainnya. Milis Sehat didirikan oleh Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) pada bulan Desember 2003 dan sampai saat ini memiliki anggota lebih dari 5.600.

Dukungan yang kurang bagi para ibu menyusui dirasakan bahkan sebelum sang ibu melahirkan bayinya. Beberapa kendala antara lain kurangnya klinik laktasi dalam unit layanan kesehatan serta kurangnya edukasi dari tenaga medis mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Hal tersebut makin dipersulit dengan tatalaksana penanganan bayi baru lahir di rumah sakit yang tidak menunjang pemberian ASI eklusif. Sebagian besar responden (55,3%) menyatakan bahwa begitu bayi lahir, bayi hanya diperlihatkan kepada orang tua tanpa diberi kesempatan untuk mulai belajar menyusu (inisiasi dini), padahal penelitian telah membuktikan bahwa bayi yang diletakkan di dekat puting ibunya segera setelah lahir memiliki respon menyusui yang lebih baik dibandingkan bayi yang telah dibersihkan lebih dahulu. Jika hanya 36% responden yang berhasil menyusui bayinya dalam waktu 1 jam pertama setelah kelahiran, dapat diperkirakan berapa banyak bayi yang tidak beruntung karena kehilangan kesempatan belajar menyusu sesegera mungkin setelah lahir. Karena itu tidak heran jika 63,3% responden mengeluhkan layanan kesehatan ibu dan anak yang dirasa tidak mendukung pemberian ASI eklusif.

Penyebab lain atas kegagalan pemberian ASI eksklusif adalah tidak dipatuhinya ketentuan Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI dari WHO. Hal ini terlihat dari ditemukannya atribut produsen susu formula pada papan nama bayi, kamar bayi dan di kamar ibu. Selain itu dalam keadaan dimana ibu dan bayi tidak ditempatkan sekamar (rawat gabung), lebih dari 50% responden menyatakan bahwa bayinya tidak diberikan kepada si ibu untuk disusui setiap saat. Bahkan 70% responden mengaku bahwa bayinya diberi susu formula saat masih berada di rumah sakit.

Selain itu sebanyak 46% responden melaporkan pemberian hadiah dan sample dari produsen susu formula ketika mereka pulang dari rumah sakit. Sesampainya di rumah, sebagian besar responden (75,8%) menyatakan bahwa mereka dihubungi pihak produsen susu formula untuk menawarkan produk. Sedemikian gencarnya promosi yang dilakukan produsen susu formula hingga 45,4% responden menyatakan bahwa promosi tersebut dipandang mengganggu dan meresahkan.

Kelirumologi dalam Praktek Pemberian Makan untuk Bayi & Balita
Pendiri YOP dan dokter anak, Dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPaed menjelaskan, “Periode usia 6 - 24 bulan merupakan periode kritis buat anak karena pertumbuhannya yang cepat dan meningkatnya kebutuhan akan makanan pendamping. Selama periode makanan pendamping ini, anak butuh makan yang mudah dicerna serta mengandung cukup lemak dan minyak.” Dengan catatan, (1) berikan makanan buatan rumah mempergunakan bahan makanan segar alami yang ada di Indonesia (home made, local context); (2) di atas usia 1 tahun, susu bukan lagi merupakan makanan utama melainkan sebagai salah satu asupan kalsium (kita bisa memperoleh kalsium dari banyak sumber seperti ikan, telur, keju, yoghurt, tahu, brokoli).

MPASI diberikan secara bertahap, dimulai dengan bentuk makanan separuh cair, kemudian sangat lembut (dihaluskan, disaring, atau digiling), hingga semakin kasar. Makanan pertama yang diberikan sebaiknya berbahan dasar beras atau tepung beras. Secara berangsur diperkenalkan dengan tepung jagung, tepung gandum atau roti, kentang, dan ubi. Tahap berikutnya dapat dimulai pemberian berbagai sayuran dan buah yang dihaluskan (yang hijau gelap serta kuning kemerahan). Sayuran seperti buncis, bayam, kangkung, sawi, kembang kol, brokoli, kacang polong, wortel, kacang panjang, dsb. Buah seperti pepaya, jeruk, labu kuning, tomat, pisang, melon, semangka, alpukat, mangga, dsb. Kacang-kacangan seperti kacang merah, kacang hijau, kacang kedelai, kacang joglo, kacang mente, serta minyak biji-bijian, dsb. Protein hewani serta yang bertulang (sebagai tambahan kalsium) seperti daging, ayam, telur, ikan laut dan air tawar (kakap, bandeng, teri basah, ikan kaca piring, selar, gurame, bawal, mujair, gurame, ikan sungai), dsb. Ketika berusia 1 tahun, anak sudah dapat mengkonsumsi makanan keluarga tetapi tetap rendah garam, tinggi serat, dan rendah gula.

Rambu-Rambu.
Pada Regional Workshop on Infant & Young Child Feeding (WHO) tahun 2003, dinyatakan bahwa dalam 20 tahun terakhir belum terlihat adanya perbaikan nyata pada praktek pemberian makan untuk bayi dan balita. Di beberapa negara, angka keberhasilan ASI eksklusif masih rendah bahkan ada yang menurun. Alasan sub-optimalnya praktek pemberian makan bisa dikelompokkan sebagai (1) kurangnya kemauan politis dan komitmen; (2) rendahnya kesadaran dan tuntutan akan informasi yang akurat; (3) miskonsepsi cultural, kesehatan, keyakinan kesehatan; (4) praktek pelayanan kesehatan ibu hamil-melahirkan yang jauh dari memuaskan; (5) kurang memadainya kualitas pelatihan dan pendidikan tenaga medis serta kurangnya dukungan tenaga ahli; (6) Lingkungan yang tidak suportif (baik lingkungan kerja maupun sarana umum); serta (7) misinformasi dan gencarnya promosi makanan jadi komersial. Untuk itu telah disusun suatu strategi global yang komprehensif untuk memperbaiki pemberian makan pada bayi dan anak melalui upaya proteksi, promosi dan dukungan dengan memberdayakan para ibu/perempuan, keluarga, pengasuh anak agar bisa memutuskan yang terbaik berdasarkan informasi yang telah mereka peroleh. Serta dengan meningkatkan komitmen pemerintah, masyarakat luas, dan organisasi internasional untuk terus mempromosikan kesehatan dan gizi anak.

Tujuan strategi global: ASI eksklusif untuk 6 bulan, MPASI yang tepat dan aman; ASI dilanjutkan sedikitnya sampai usia 2 tahun; pemberian makan pada situasi yang pelik termasuk malnutrisi, HIV, bayi berat lahir rendah, dan kondisi emerjensi, bencana alam. Target operasional untuk bayi dan balita:
memastikan agar sektor kesehatan dan berbagai sektor lainnya memberikan perlindungan, penyuluhan dan dukungan untuk ASI eksklusif dan MPASI yang timely, adequate, safe and appropriate dengaqn tetap meneruskan ASI.

  • Memastikan agar semua fasilitas layanan kesehatan ibu memberikan juga pelayanan 10 langkah promosi ASI.
  • Menunjuk koordinator nasional dan membentuk komite multisektoral national;
  • Menyusun, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi kebijakan praktek pemberian makan bayi dan anak yang komprehensif;
  • Mengusahakan tercapainya prinsip dan tujuan the International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes;
  • Membuat legislasi untuk memproteksi ibu bekerja dan law enforcement untuk implementasinya

Bahan makanan lokal yang murah/terjangkau dengan mudah dapat diolah menjadi makanan sehat dan bergizi. Orang tua yang mengolah sendiri makanan untuk anak dapat mengatur komposisi, tekstur dan rasa makanan sesuai kebutuhan anak. Menu makanan harus dan dapat dibuat bervariasi. Kebersihan dan kesegaran makanan olahan sendiri pun lebih terjamin. Makanan yang dibuat dengan penuh kasih sayang ibu tentulah jauh lebih baik daripada makanan bayi dalam kemasan.


www.sehatgroup.web.id

Tidak ada komentar: